Just another WordPress.com site

DAFTAR ISI

               

BAB I    PENDAHULUAN……………………………………………………………………… 2

BAB II  PERAWATAN GANGREN PADA GIGI ANAK-ANAK…………… 3

2.1  Pengertian Gangren………………………………………………………………….. 3

2.1.1  Proses Terjadinya Gangren…………………………………………… 3            2.1.2  Bagan Patifisiologi terjadinya gangrene pulpa………………………………………………………………. 4

2.2    Prosedur Perawatan Pulpa Pada Gigi Anak-Anak……………………….. 5

                        2.2.1 Pulp Capping………………………………………………………………. 5

2.2.1.1  Indirect Pulp Capping…………………………………….. 5

2.2.1.2 Direct Pulp Capping……………………………………….. 6

2.2.2 Pulpotomi……………………………………………………………………. 6

2.2.2.1 Pulpotomi Vital………………………………………………. 7

2.2.2.1 Pulpotomi Non Vital ( mortal pulpotomi )………….. 8

2.2.3 Pulpektomi………………………………………………………………….. 9

2.2.3.1 Pulpektomi Vital…………………………………………….. 9

2.2.3.2 Pulpektomi Non Vital……………………………………… 9

2.3 Perawatan Gangren Pada Gigi Anak-Anak…………………………………… 10

2.2.1  Pengertian Pulpotomi Mortal…………………………………………… 10

2.2.2  Langkah-langkah Pulpotomi Mortal…………………………………. 11

                     2.2.3  Faktor-faktor dalam Pemilihan Metode Pulpotomi Mortal….. 12

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………….. 13

BAB I

PENDAHULUAN

 

Terbukanya pulpa paling sering disebabkan oleh karies, tetapi dapat pula disebabkan oleh trauma dari suatu benturan atau selama preparasi kavitas. Terbukanya pulpa disebabkan oleh karies terjadi lebih sering pada gigi susu daripada gigi tetap karena gigi susu mempunyai rongga pulpa yang relatif lebih besar, tanduk pulpa lebih menonjol, dan email serta dentin yang lebih tipis.

Terbukanya pulpa karena karies akhirnya diikuti oleh infeksi pulpa, sedangkan terbukanya pulpa karena trauma diikuti oleh infeksi, jika pulpa yang terbuka terinfeksi saliva. Pulpa yang infeksi menjadi meradang dan dapat terjadi nekrose pulpa. Gigi susu dengan pulpa terbuka jangan dibiarkan tanpa perawatan. Harus dilakukan pilihan diantara konservasi melalui beberapa bentuk perawatan pulpa atau pencabutan.

 

 

 

 

 

 

                                             BAB II

    PERAWATAN GANGREN PADA  GIGI ANAK-ANAK

 

2.1       Pengertian Gangren

Gangren adalah keadaan gigi dimana jaringan pulpa sudah mati sebagai sistem pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan rangsangan sehingga jumlah sel pulpa yang rusak menjadi semakin banyak dan menempati sebagian besar ruang pulpa.

 

2.1.1    Proses Terjadinya Gangren

Proses terjadinya gangren diawali oleh proses karies. Faktor-faktor yang menyebabkan karies adalah bakteri, karbohidrat makanan, kerentanan permukaan gigi, dan waktu. Perjalanan gangren dimulai dengan adanya karies yang mengenai email (karies superfisialis), dimana terdapat lubang dangkal, tidak lebih dari 1mm. Selanjutnya proses berlanjut menjadi karies pada dentin (karies media) yang disertai dengan rasa nyeri yang spontan pada saat pulpa terangsang oleh suhu dingin atau makanan yang manis dan segera hilang jika rangsangan dihilangkan.

Karies dentin kemudian berlanjut menjadi karies pada pulpa yang didiagnosa sebagai pulpitis. Pada pulpitis terdapat lubang lebih dari 1mm. pada pulpitis terjadi peradangan kamar pulpa yang berisi saraf, pembuluh darah, dan pempuluh limfe, sehingga timbul rasa nyeri yang hebat, jika proses karies berlanjut dan mencapai bagian yang lebih dalam (karies profunda). Maka akan menyebabkan terjadinya gangren pulpa yang ditandai dengan perubahan warna gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan, dan pada lubang perforasi tersebut tercium bau busuk akibat dari proses pembusukan dari toksin kuman.

 

2.1.2  Bagan Patifisiologi terjadinya gangrene pulpa

Bakteri + karbihidrat makanan + Kerentanan permukaan gigi +waktu

(Saling tumpang tindih)

Karies superfisialis

Karies Media

Karies Profunda

Radang pada pulpa (Pulpitis)

Pembusukan jaringan pulpa (ditemukan gas-gas indol, skatol, putresin)

Bau Mulut

Keluar Gas H2S, NH3

Gigi non vital

(Gangren pulpa)

2.1.3   Gejala Klinik

Gejala yang didapat dari pulpa yang gangrene bisa terjadi tanpa keluhan sakit, dalam keadaan demikian terjadi perubahan warna gigi, dimana gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan Pada gangrene pulpa dapat disebut juga gigi non vital dimana pada gigi tersebut sudah tidak memberikan reaksi pada cavity test (tes dengan panas atau dingin) dan pada lubang perforasi tercium bau busuk, gigi tersebut baru akan memberikan rasa sakit apabila penderita minum atau makan benda yang panas yang menyebabkan pemuaian gas dalam rongga pulpa tersebut yang menekan ujung saraf akar gigi sebelahnya yang masih vital.

 

2.2    Prosedur Perawatan Pulpa Pada Gigi Anak-Anak

 

            2.2.1 Pulp Capping

            Pulp Capping didefinisikan sebagai aplikasi dari satu atau beberapa lapis bahan pelindung di atas pulpa vital yang terbuka. Bahan yang biasa digunakan untuk pulp capping ini adalah kalsium hidroksida karena dapat merangsang pembentukan dentin sekunder secara efektif dibandingkan bahan lain. Tujuan pulp capping adalah untuk menghilangkan iritasi ke jaringan pulpa dan melindungi pulpa sehingga jaringan pulpa dapat mempertahankan vitalitasnya. Dengan demikian terbukanya jaringan pulpa dapat terhindarkan. Teknik pulp capping ini ada dua yaitu indirect pulp capping dan direct pulp capping.

 

 

2.2.1.1  Indirect Pulp Capping

Tekniknya meliputi pembuangan semua jaringan karies dari tepi kavitas dengan bor bundar kecepatan rendah. Lalu lakukan ekskavasi sampai dasar pulpa, hilangkan dentin lunak sebanyak mungkin tanpa membuka kamar pulpa.

Basis pelindung pulpa yang biasa dipakai yaitu zinc okside eugenol atau dapat juga dipakai kalsium hidroksida yang diletakan di dasar kavitas. Apabila pulpa tidak lagi mendapat iritasi dari lesi karies diharapkan jaringan pulpa akan bereaksi secara fisiologis terhadap lapisan pelindung dengan membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil jaringan pulpa harus vital dan bebas dari inflamasi.

Biasanya atap kamar pulpa akan terbuka saat dilakukan ekskavasi. Apabila hal ini terjadi maka tindakan selanjutnya adalah dilakukan direct pulp capping atau tindakan yang lebih radikal lagi yaitu amputasi pulpa (pulpotomi).

 

2.2.1.2 Direct Pulp Capping

Direct Pulp Capping menunjukkan bahwa bahan diaplikasikan langsung ke jaringan pulpa. Daerah yang terbuka tidak boleh terkontaminasi oleh saliva, kalsium hidroksida dapat ditempatkan di dekat pulpa dan selapis semen zinc okside eugenol dapat diletakkan di atas seluruh lantai pulpa dan biarkan mengeras untuk menghindari tekanan pada daerah perforasi bila gigi di restorasi. Pulpa diharapkan tetap bebas dari gejala patologis dan akan lebih baik jika membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil maka pulpa di sekitar daerah terbuka tersebut harus vital dan dapat terjadi proses perbaikan.

2.2.2 Pulpotomi

Pulpotomi adalah pembuangan pulpa vital dari ruang pulpa, dengan meninggalkan jaringan pulpa pada saluran akar dalam keadaan sehat dan vital. Tujuan perawatan pulpotomi adalah menghilangkan semua jaringan pulpa yang terinfeksi

 

2.2.2.1 Pulpotomi Vital

Membuang seluruh jaringan pulpa bagian koronal namun tetap meninggalkan jaringan pulpa pada saluran akar tetap vital (dalam 1 kunjungan).

Langkah-langkah perawatan pulpotomi vital l satu kali kunjungan untuk gigi sulung :

1. Siapkan instrumen dan bahan.

2. Isolasi gigi.

3. Preparasi kavitas.

4. Ekskavasi karies yang dalam.

5. Buang atap pulpa.

6. Buang pulpa bagian korona.

7. Cuci dan keringkan kamar pulpa.

8. Aplikasikan formokresol.

9. Berikan bahan antiseptik.

10. Restorasi gigi.

 

 

2.2.2.1 Pulpotomi Non Vital ( mortal pulpotomi )

Pulpotomi mortal adalah teknik perawatan endodontik dengan cara mengamputasi pulpa nekrotik di kamar pulpa kemudian dilakukan sterilisasi dan penutupan saluran akar.

 

2.2.3 Pulpektomi

Adalah pembuangan seluruh jaringan pulpa nekrotik pada ruang pulpa dan saluran akar diikuti pengisian saluran akar dengan bahan semen yang dapat diresorbsi.

2.2.3.1 Pulpektomi Vital

 

2.2.3.2 Pulpektomi Non Vital

Perawatan endodontik untuk gigi sulung dengan pulpa non vital adalah pulpektomi mortal (pulpektomi devital). Pulpektomi mortal adalah pengambilan semua jaringan pulpa nekrotik dari kamar pulpa dan saluran akar gigi yang non vital, kemudian mengisinya dengan bahan pengisi. Walaupun anatomi akar gigi sulung pada beberapa kasus menyulitkan untuk dilakukan prosedur pulpektomi, namun perawatan ini merupakan salah satu cara yang baik untuk mempertahankan gigi sulung dalam lengkung rahang.

 

 

 

2.3 Perawatan Gangern pada gigi anak – anak

Perawatan yang dilakukan untuk gangren pada gigi anak-anak dengan perawatan Mortal pulpotomi (Non Vital Pulpotomi). Pemeriksaan yang diteliti sebelum perawatan perlu sekali dilakukan untuk menentukan apakah gigi akan dirawat atau dicabut. Jika gigi akan dirawat, maka hasil pemeriksaan akan mengarahkan kepada jenis perawatan pulpa yang akan diambil.

Hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah:

  1. Keadaan kesehatan umum.
  2. Pertimbangan mengenai ruang yang tersedia buat gigi tetap dan sikap orang tua terhadap kesehatan gigi.
  3. Pemeriksaan gigi-giginya.

Prinsip dasar perawatan endodontik pada gigi sulung dengan pulpa non vital adalah untuk mencegah sepsis dengan cara membuang jaringan pulpa non vital, menghilangkan proses infeksi dari pulpa dan jaringan periapikal, memfiksasi bakteri yang tersisa di saluran akar. Perawatan endodontik untuk gigi sulung dengan pulpa non vital yaitu perawatan pulpotomi mortal.

2.3.1   Indikasi

  1. Gigi sulung non-vital
  2. Ada resorbsi akar
  3. Saluran akar tidak jelas
  4. Akar membengkok
  5. Nonkooperatif

2.3.2   Pengertian Mortal Pulpotomi

Pulpotomi mortal adalah teknik perawatan endodontik dengan cara mengamputasi pulpa nekrotik di kamar pulpa kemudian dilakukan sterilisasi dan penutupan saluran akar. Pulpa bagian koronal yang nekrotik, mula-mula dibuang dan pulpa bagian akar yang telah terinfeksi dirawat dengan larutan antiseptik yang kuat, yang diberikan kapas dan ditutup pada kamar pulpa selama 1-2 minggu.

Pada kunjungan kedua, larutan antiseptik ditempatkan diatas sisa-sisa pulpa di bagian akar sebelum melakukan restorasi gigi. Adanya fistula yang dihubungkan dengan abses kronik, atau derajat mobilitas gigi, tidaklah perlu merupakan kontra indikasi metode ini. Fistula diharapkan menghilang setelah infeksi dikendalikan, dan gigi yang goyang menjadi kokoh sewaktu tulang periapikal terbentuk kembali.

 

2.3.3   Langkah-langkah Mortal Pulpotomi

Langkah-langkah pulpotomi mortal adalah:

Kunjungan pertama:

  1. Siapkan instrumen dan bahan.
  2. Isolasi gigi dengan rubber dam.
  3. Preparasi kavitas.
  4. Eksavasi karies yang dalam.
    1. Buang atap kamar pulpa dengan bor fisur steril dengan handpiece kecepatan rendah.
    2. Buang pulpa di bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor bundar.
    3. Cuci dan keringkan pulpa dengan air.
    4. Letakkan arsen atau euparal pada bagian terdalam dari kavitas.
    5. Tutup kavitas dengan tambalan sementara.
      1. Bila memakai arsen, instruksikan pasien untuk kembali 1 sampai 3 hari. Sedangkan jika memakai euparal instruksikan pasien untuk kembali setelah 1 minggu.

 

Kunjungan kedua:

  1. Isolasi gigi dengan rubber dam.
  2. Buang tambalan sementara.

Lihat apakah pulpa masih vital atau sudah non vital. Bila masih vital, lakukan lagi perawatan seperti pada kunjungan pertama, bila pulpa sudah non vital lakukan perawatan selanjutnya.

  1. Berikan bahan antiseptik.

Tekan pasta antiseptik dengan kuat ke dalam saluran akar dengan cotton pellet.

  1. Aplikasi semen zinc oxide eugenol.
  2. Restorasi gigi dengan tambalan sementara.

 

 

 

2.3.4    Faktor-faktor dalam Pemilihan Metode Perawatan Mortal Pulpotomi

Faktor-faktor dalam pemilihan metode perawatan mortal pulpotomi adalah sebagai berikut:

  1. Riwayat sakit spontan.
  2. Pembengkakan, kemerahan pada mukosa.
  3. Adanya sinus.
  4. Mobilitas gigi.
  5. Lunak pada perkusi.
  6. Secara radiologis terlihat resorpsi patologis atau destruksi tulang periradikuler.
  7. Pulpa pada tempat yang terbuka tidak berdarah.

 

Perawatan pulpotomi dinyatakan berhasil apabila kontrol setelah 6 bulan tidak ada keluhan, tidak ada gejala klinis, tes vitalitas untuk pulpotomi vital (+),  dan pada gambaran radiografik lebih baik dibandingkan dengan foto awal

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Riyanti, Eriska. Penatalaksanaan nursing mouth caries (http://resources.unpad.ac.id) 4 Agustus 2009-08-09

R.J.Andlow,W.P.Rock. Perawatan gigi anak edisi kedua. 1992.  Widya Medika.

Ani Kartini, Ganggren Pulpa (http://anikart.blogspot.com) 10 juli 2009

http://shoekidjo.blog.friendster.com/2008/09/perawatan-pulpa-gigi-sulung/

http://www.scribd.com/suggested_users?from=download&next_url=http%3A%2F%2Fwww.scribd.com%2Fdocument_downloads%2F13455178%3Fextension%3Dpdf%26secret_password%3D

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: