Just another WordPress.com site

Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Anak

 

Inne Suherna Sasmita, drg., Sp. Ped.

Eriska Riyanti, drg., Sp. KGA.

Badi Soerachman, SKG.

 

Bagian Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Jl. Sekeloa Selatan Bandung

 

 

ABSTRAK

Tanggalnya gigi sulung secara dini disebabkan oleh kerusakan gigi atau karena faktor genetik. Tanggalnya gigi mengakibatkan migrasi gigi tetangga dan antagonisnya untuk mengisi ruang yang kosong sehingga akan terjadi maloklusi. Pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan ditujukan untuk mengembalikan fungsi mastikasi, mencegah gangguan bicara dan dapat mengembalikan rasa percaya diri pada anak, terutama jika dilihat dari segi estetik.

Perawatan dengan menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan  anak dilakukan dengan mempertimbangkan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan rahang. Selama periode pertumbuhan gigi tiruan memerlukan penyesuaian secara periodik dan terus-menerus, sehingga disain gigi tiruan sebagian lepasan yang dibuat  tidak menghambat pertumbuhan.

Gigi tiruan sebagian lepasan merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengganti gigi yang hilang, selain itu diharapkan dapat mengembalikan fungsi mastikasi, bicara dan penampilan. Keberhasilan perawatan gigi tiruan sebagian lepasan  anak didukung oleh kerja sama yang baik antara anak, orang tua, dan dokter.

 

Kata Kunci :  Gigi, Tiruan, Lepasan, Anak

 

ABSTRACT

Premature loss of a primary tooth is caused by dental damage or by genetic factors. Loss of teeth may result in migration of the adjoining teeth and their antagonists to fill the gap so as to result in malocclusion. The use of partially removable denture is intended to restore masticating function, prevent speech disorder, and restore self-confidence in the child, especially from the viewpoint of esthetics.

Treatment with the use of partially removable denture in children is implemented with due consideration for dental and jaw growth and development. In the period of growth, dentures need periodic and continual adjustment so partially removable dentures do not impede growth.

Partially removable dentures  is a means which may be used to replace loss of theeth. In addition, partially removable dentures are expected to restore the function of mastication, speech, and facial appearance. Success in treatment of partially removable denture in children is supported by good collaboration among the child, and the dentist.

 

Keywords: Children Removable  dentures

 

PENDAHULUAN

Salah satu bagian terpenting dalam proses pencernaan makanan  adalah mulut. Makanan akan diproses di dalam rongga mulut oleh saliva, lidah dan gigi,  agar proses tersebut dapat berjalan dengan baik harus disertai dengan perawatan dan pemeliharaan yang optimal dari gigi dan mulut.

Gigi merupakan salah satu bagian tubuh yang harus diperhatikan dengan baik, terutama pada  periode gigi sulung,  pada periode tersebut lebih sering terjadi kerusakan yang diakibatkan oleh adanya  karies yang parah, kehilangan gigi akibat trauma dan adanya kelainan kongenital. Kerusakan pada gigi dapat mengakibatkan gangguan  dalam pengunyahan dan menimbulkan rasa sakit. Kerusakan yang terjadi pada gigi jika dibiarkan dapat menyebabkan gigi tanggal sebelum waktunya dan diikuti dengan adanya perubahan dari fungsi gigi dan mulut (1).

Tanggalnya gigi sulung secara dini pada anak, dapat menyebabkan terjadinya migrasi gigi tetangga dan antagonisnya untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh gigi tersebut, sehingga lambat laun akan mengakibatkan    maloklusi   selain itu   lengkung    gigi    tidak   berkembang  secara   optimal,   bahkan  dapat     menyebabkan      terjadinya gangguan bicara, mastikasi, dan estetik (2).

Gangguan organ bicara dapat mempengaruhi suara pasien, misalnya  kehilangan gigi anterior rahang atas dan bawah. Kehilangan gigi anterior dapat mengakibatkan gangguan bicara yang bersifat sementara, setelah menggunakan gigi tiruan mampu meningkatkan fungsi bicara dengan cara membiasakan menggunakan gigi tiruan  (1).

Gangguan bicara yang disebabkan tanggalnya gigi anterior, akan berdampak dalam pelafalan kata, terutama pada kata yang mengandung huruf konsonan antara lain (s), (z), (v), (f). Udara bebas yang berada di ruang  kosong karena tanggalnya gigi yang hilang, akan merubah bunyi s menjadi th. Kelainan dalam pelafalan dapat menyebabkan trauma psikologis pada anak, sehingga anak menjadi kurang percaya diri (3,4).

Ruang kosong dalam lengkung rahang anak, dapat  dioptimalkan fungsinya yaitu dengan menggunakan suatu alat gigi tiruan sebagian  lepasan (removable partial denture) atau gigi tiruan cekat ( fixed partial denture(5,6). Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan ditujukan pada keadaan hilangnya gigi, termasuk diastema, dan  terjadinya resorpsi tulang.

Pembuatan gigi tiruan cekat hanya dapat digunakan bila hilangnya gigi tiap daerah tak bergigi  tidak seluruhnya dan pada ke dua sisi daerah yang tidak begigi masih dibatasi gigi asli sehingga memenuhi syarat sebagai gigi pendukung (1). Apabila alat cekat tidak dapat dipakai karena kurangnya retensi (tidak memenuhi syarat sebagai gigi pendukung), maka gigi tiruan sebagian lepasan menjadi pilihan dokter gigi.

Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan dapat disesuaikan dengan pertumbuhan gigi. Selama  periode pertumbuhan, gigi tiruan memerlukan penyesuaian secara periodik dan terus-menerus, ketika gigi tiruan sudah tidak sesuai lagi dengan pertumbuhan rahang karena terlalu kecil, maka pemeriksaan dan perawatan harus dihentikan. Pembuatan gigi tiruan baru merupakan perawatan yang dianjurkan dokter gigi untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan rahang(7). Gigi tiruan sebagian lepasan perlu dibuat ulang mengikuti pola pertumbuhan dan erupsi gigi tetap (6).

Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan memegang peranan penting  dalam perawatan gigi anak, oleh karena perawatan tersebut akan memulihkan  fungsi mastikasi, bicara, posisi gigi, estetik wajah, dapat mencegah kebiasaan buruk, serta sekaligus memelihara dan mempertahankan gigi yang tersisa serta jaringan pendukungnya (8).

 

TINJAUAN PUSTAKA

Gigi tiruan sebagian lepasan merupakan bagian dari seni dan ilmu kedokteran gigi yang bertujuan untuk memperbaiki serta menjaga fungsi mulut dengan mengganti gigi dan jaringan yang hilang (9). Tujuan penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan adalah untuk mempertahankan jaringan yang masih ada serta mengembalikan fungsi mastikasi, bicara, penampilan dan mencegah kebiasaan buruk (3).

Dukungan utama dari gigi tiruan sebagian lepasan diperoleh dari jaringan di bawah landasan serta dukungan tambahan dari gigi kodrat yang masih tinggal. Penggunaan gigi tiruan tersebut dapat dilepas dan dipasang sendiri oleh pasien (10). Gigi  tiruan sebagian lepasan adalah alat prostetik yang menggantikan hilangnya satu atau lebih gigi kodrat yang tanggal, serta harus mendapat dukungan dari gigi kodrat dan jaringan sekitarnya (11).

Gigi  tiruan sebagian lepasan merupakan pergantian  gigi  yang  mengenai sebagian dari lengkung gigi dan jaringan sekitarnya, dapat  terjadi  pada  rahang  atas  maupun  bawah,   serta  dapat  dipasang dan dilepas oleh pasien sendiri (12).

Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan dapat memulihkan dan mengembalikan fungsi gigi dengan mempertahankan gigi yang masih ada. Fungsi gigi tiruan sebagian lepasan antara lain  (1) :

1.  Pemulihan fungsi estetik.

Masalah estetik menjadi salah satu alasan utama pasien dalam perawatan pembuatan gigi tiruan. Pasien yang kehilangan gigi anterior, akan memperlihatkan wajah dengan bentuk bibir masuk ke dalam, sehingga  pada dasar hidung tampak lebih ke dalam dan dagu menjadi lebih ke depan.

Pada  anak-anak  kehilangan  gigi  anterior   sering  terjadi  karena  kecelakaan,  sehingga  tidak   sedikit  perawatannya  dengan  cara   mencabut  gigi yang  terkena  trauma  akibat  kegoyangan  yang  sangat  besar.   Tanggalnya   gigi  tersebut  akan mengakibatkan  migrasi  ke gigi  tetangga ke arah gigi yang hilang.

2.  Peningkatan fungsi bicara.

Organ  bicara  yang  tidak lengkap dan kurang sempurna dapat mempengaruhi

suara pasien, misalnya pasien kehilangan gigi anterior rahang atas dan rahang bawah. Kehilangan gigi anterior dapat mengakibatkan gangguan bicara yang bersifat sementara, setelah menggunakan gigi tiruan mampu meningkatkan fungsi bicara dengan cara membiasakan menggunakan gigi tiruan.

Terbentuknya suara berawal dari laring, lidah, palatum dan dibantu gigi-gigi. Rongga mulut dan sinus maksilaris dalam hal ini berfungsi sebagai ruang resonansi. Menurut tempat terjadinya suara yang dihasilkan dapat dibedakan sebagai berikut :

1)  Labial

Merupakan  huruf  yang  diucapkan  oleh  bibir,  antara lain huruf  (b), (p), (m).

2)  Labiodental

Merupakan huruf yang diucapkan antara bibir bawah dengan tepi insisal gigi anterior rahang atas, antara lain huruf  (f), (v), (ph).

3)  Linguodental

Merupakan huruf yang diucapkan antara lidah dengan gigi anterior rahang atas, antara lain huruf (th).

4)  Linguopalatal

Merupakan huruf yang diucapkan antara lidah dengan palatum, antara lain huruf (d), (s), (c), (j).

5)  Nasal

Merupakan huruf yang akan terdengar seperti huruf (n), (ng).

3.  Perbaikan dan peningkatan fungsi pengunyahan.

Salah satu bagian terpenting dalam proses pencernaan makanan  adalah mulut. Makanan akan diproses di dalam rongga mulut dengan gigi, agar proses tersebut dapat berjalan dengan baik harus disertai dengan perawatan dan pemeliharaan yang optimal dari gigi dan mulut tersebut.

Penelitian Farrel (1962) menunjukkan bahwa jenis makanan tertentu dapat dicernakan dengan sempurna tanpa perlu dikunyah sama sekali. Penderita yang sudah kehilangan gigi biasanya mengalami perubahan pada mastikasi. Tekanan kunyah akan terpusat pada satu sisi atau satu bagian saja. Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan akan memperbaiki penyaluran tekanan kunyah secara merata ke seluruh bagian jaringan pendukung.

4.  Mempertahankan jaringan mulut yang ada.

Jaringan mulut yang ada akan dipertahankan dengan pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan, karena dengan gigi tiruan dapat mencegah atau mengurangi efek yang timbul karena hilangnya gigi.

5.  Pencegahan migrasi gigi.

Tanggalnya gigi sulung yang terlalu dini pada anak, dapat mengakibatkan migrasi gigi tetangga dan antagonisnya untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh gigi tersebut, sehingga lambat laun akan mengakibatkan  maloklusi dan lengkung gigi tidak berkembang secara optimal, bahkan akan menyebabkan terjadinya gangguan bicara, mastikasi, dan estetis  (2).

Ruang kosong pada gigi yang tanggal akan mengakibatkan makanan tertinggal pada daerah yang kosong, sehingga mudah terjadi akumulasi plak interdental, serta akan mengakibatkan peradangan jaringan periodontal dan dekalsifikasi permukaan  proksimal  gigi. Akibat  lain  dapat terjadi  erupsi berlebih  gigi antagonis.

Prinsip dan teknik perawatan pembuatan gigi tiruan pada anak sama dengan pembuatan gigi tiruan dewasa. Perbedaan yang harus diperhatikan yaitu mengenai pertumbuhan dan perkembangan terutama gigi dan rahang (14,4).

Pembuatan gigi tiruan anak harus memperhatikan perkembangan alveolar akan berjalan ke arah lateral, maka disain landasan dibuat sampai 1/3 forniks atau kurang lebih sejajar dengan puncak alveolar (alveolar crest), dengan tujuan agar tidak menghambat pertumbuhan. Disain landasan dapat dibuat sampai forniks tetapi dengan menggunakan tissue conditioner atau soft acrylic. Pada pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan dewasa perluasan sayap landasan dibuat sampai forniks dengan tujuan mendapatkan retensi dan stabilisasi (6).

Selama periode pertumbuhan, gigi tiruan memerlukan penyesuaian secara periodik dan terus-menerus. Gigi tiruan yang sudah tidak sesuai lagi dengan pertumbuhan rahang karena terlalu kecil, maka perawatan harus dihentikan. Pembuatan gigi tiruan baru merupakan perawatan yang dilakukan dokter gigi untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan rahang. Perawatan pada pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan dewasa dilakukan pemeriksaan jika ada keluhan dan tidak dilakukan pemeriksaan secara terus-menerus (7).

Pengguanaan gigi tiruan sebagian lepasan dewasa selamanya dan diganti atau dibuat ulang jika terdapat keluhan pada gigi tiruan tersebut, sedangkan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak perlu dibuat ulang mengikuti pola pertumbuhan dan erupsi gigi tetap (6). Prosedur ini dilakukan agar pasien lebih nyaman dalam penggunaan gigi tiruan.

Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan memegang peranan penting  dalam perawatan gigi anak, sebab perawatan tersebut bertujuan untuk memulihkan  fungsi mastikasi dan bicara anak, mengembalikan keadaan gigi dan estetik wajah anak serta mencegah kebiasaan buruk (3).   Gigi  tiruan dapat mengembalikan fungsi estetik, sekaligus memelihara dan mempertahankan gigi yang tersisa serta jaringan pendukungnya (6). Pembuatan gigi tiruan ini juga dapat membantu mengatasi masalah-masalah psikologis yang timbul pada pasien (5).

Pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan memerlukan beberapa syarat antara lain  (3,4,7,15):

1.      Alat yang dipakai dapat mengembalikan dan memperbaiki fungsi mastikasi, estetik dan bentuk muka pasien.

2.      Alat memiliki kekuatan yang baik untuk mengunyah dan stabil bila digunakan.

3.      Tidak mengganggu fungsi bicara.

4.      Tidak menghambat pertumbuhan normal lengkung rahang.

5.      Dapat mencegah erupsi berlebihan gigi antagonis, migrasi dan kemungkinan terjadinya kebiasaan buruk.

6.      Mudah untuk dibersihkan.

7.      Disain harus disesuaikan, agar mudah dipasang dan dikeluarkan oleh pasien.

8.      Disain harus seimbang, agar dapat diperbaiki untuk penyesuaian erupsi gigi tetap.

9.      Alat tidak menyebabkan karies dan tidak mengiritasi jaringan pendukungnya.

Kasus tanggalnya gigi secara dini pada anak memerlukan pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan, oleh karena itu perlu indikasi yang tepat dalam pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan. Gigi  tiruan sebagian lepasan anak dibuat pada keadaan antara lain sebagai berikut (3,4,6):

1.      Secara  radiografis,  mempunyai  gambaran  gigi   tetap   pengganti  yang  diperkirakan  akan  erupsi  lebih  dari  enam  bulan.

2.      Tanggalnya gigi molar sulung secara dini, sehingga memerlukan penahan ruang untuk perbaikan fungsi mastikasi.

3.      Gigi penyangga tidak mampu mendukung alat prostodonti cekat, akibat adanya resorpsi akar, trauma atau karies luas yang melibatkan pulpa.

4.      Tanggalnya gigi anterior sulung akibat trauma.

5.      Pada  kasus  tidak  adanya  gigi  secara kongenital, misalnya oligodonsia sebagian. Oligodonsia dapat terjadi pada gigi sulung maupun gigi tetap.

6.      Adanya celah pada palatum yang harus ditutup dengan protesa.

7.      Kehilangan gigi tetap muda akibat trauma.

8.      Pasien kooperatif,  tidak ada keluhan jika dilakukan perawatan.

9.      Usia di atas 2,5  tahun merupakan  anjuran  dan  prasyarat  untuk  menggunakan

gigi tiruan sebagian lepasan.

Indikasi yang tepat diperlukan dalam membuat gigi tiruan sebagian lepasan, selain itu ada beberapa hal yang menjadi kontraindikasi dalam pembuatan gigi tiruan diantaranya (1,2):

1. Pasien yang tidak kooperatif, dapat dikatakan termasuk dalam kelompok hysterical mind.

2.  Faktor kesehatan secara umum yang tidak mendukung untuk dilakukan perawatan.

3.  Keadaan sosial ekonomi dapat menjadi pertimbangan dalam melanjutkan rencana perawatan.

4.  Kasus hilangnya semua gigi yang memerlukan pembuatan gigi tiruan penuh.

5.   Dalam foto rontgen terlihat gigi pengganti yang akan erupsi.

6.   Pasien yang mengalami keterbelakangan mental akan sulit untuk memberikan penjelasan dalam perawatan penggunaan gigi tiruan.

Keuntungan  menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan antara lain (4,15):

1.   Mengembalikan fungsi mastikasi dan estetik.

2.   Mudah dalam membersihkan.

3.   Pasien serta orang tua pasien dapat memasang dan mengeluarkan gigi tiruan.

4. Perawatan gigi tiruan lebih mudah, karena dapat diperbaiki mengikuti perkembangan rahang anak.

Dampak yang merugikan pada pemakaian gigi tiruan lepasan adalah (1,4,15):

1.  Perawatan tergantung pada pasien dan orang tua yang kooperatif.

2.  Peningkatan akumulasi plak.

3. Penyaluran daya kunyah yang tidak seimbang.

4.  Terjadi peradangan mukosa.

5.  Resorpsi tulang alveolar,  jika terjadi kontak prematur.

6.  Halitosis pada pasien yang kurang memperhatikan oral higiene yang baik.

7.  Kelainan gigi penyangga dapat berupa gingivitis dan periodontitis.

8.  Karies dan kegoyangan pada gigi sandaran.

Klasifikasi  gigi tiruan pada periode gigi campuran adalah sebagai berikut (3):

Kelas I             : Kehilangan gigi posterior rahang atas satu sisi

 

Gambar 3.1   Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Kelas I   

Kelas II           : Kehilangan gigi posterior rahang bawah satu sisi

Gambar 3.2   Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Kelas II

Kelas III          : Kehilangan gigi posterior rahang atas dua sisi

1

 

2

Gambar 3.3   Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Kelas III

1. Gigi tiruan sebagian lepasan sebelum dipasang di dalam mulut.

2. Gigi tiruan sebagian lepasan yang telah dipasang di dalam mulut.

Kelas IV          : Kehilangan gigi posterior rahang bawah dua sisi

Gambar 3.4  Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Kelas  IV

Kelas V           : Kehilangan gigi anterior-posterior rahang atas

Gambar 3.5 Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Kelas V

Kelas VI          : Kehilangan gigi anterior-posterior rahang bawah

 

Gambar 3.6 Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Kelas VI

Kelas VII        : Kehilangan satu atau lebih gigi susu/ gigi tetap anterior

 

1

 

2

Gambar 3.7  Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Kelas VII

1. Gigi tiruan sebagian lepasan kelas VII untuk rahang bawah.

2. Keadaan rongga mulut dengan kehilangan gigi anterior rahang atas.

 

Kelas VIII       : Kehilangan semua gigi susu

Gambar 3.8   Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Kelas VIII

Pada  kasus kehilangan gigi kelas VII, akan membutuhkan pemakaian gigi tiruan lepasan (16). Menurut penelitian bahwa kehilangan gigi anterior pada periode gigi campuran akan mengakibatkan gangguan dalam proses erupsi gigi tetap. Tanggalnya gigi tersebut akan mengakibatkan migrasi  gigi tetangga ke arah yang hilang (3) .

 

 

PEMBAHASAN

Disain gigi tiruan sebagian lepasan pada anak  sama dengan prinsip dasar pembuatan  gigi tiruan sebagian lepasan pada orang dewasa. Perbedaan yang harus diperhatikan dalam pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak adalah waktu pemakaian yang disesuaikan dengan usia pertumbuhan dan perkembangan gigi (4).

Pembuatan  gigi tiruan sebagian lepasan memerlukan beberapa tahap (1) :

1.  Menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi.

Daerah tak bergigi pada suatu lengkung gigi dapat bervariasi, anatara lain dalam hal panjang, macam, jumlah dan letaknya. Semua ini akan mempengaruhi rencana pembuatan disain gigi tiruan, baik dalam bentuk sadel, konektor maupun pendukungnya.

2.  Menentukan macam dukungan dari setiap sadel.

Bentuk daerah tidak bergigi ada dua macam yaitu daerah tertutup (paradental) dan  daerah  berujung  bebas  (free end).   Bentuk  sadel  dibagi menjadi dua yaitu

sadel tertutup dan berujung bebas. Terdapat tiga pilihan untuk dukungan sadel tertutup, yaitu dukungan gigi, mukosa, atau kombinasi. Sebaliknya untuk sadel berujung bebas dukungan pada umumnya berasal dari mukosa. Dukungan terbaik untuk gigi tiruan sebagian lepasan diperoleh dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut antara lain keadaan jaringan pendukung, panjang dan jumlah sadel serta keadaan rahang.

3.   Menentukan jenis penahan.

Penahan yang akan dipilih dapat ditentukan dengan memperhatikan faktor-faktor berikut:

1)  Dukungan sadel

Dukungan sadel berkaitan dengan indikasi macam cangkolan yang akan dipakai dan gigi penyangga yang diperlukan.

2)  Stabilitas gigi tiruan

Berhubungan dengan jumlah dan macam gigi pendukung yang ada dan yang akan dipakai.

3)  Estetika

Berhubungan dengan bentuk dan tipe cangkolan dan lokasi gigi penyangga.

4.  Menentukan jenis konektor.

Konektor yang dipakai biasanya berbentuk pelat, yaitu pada gigi tiruan dari resin.

 

Sebelum  gigi tiruan sebagian lepasan dipasang dalam mulut anak, sebaiknya persiapan dalam mulut dilakukan terlebih dahulu. Persiapan mulut ini bertujuan untuk mendapatkan keadaan mulut yang mampu mendukung dan memberikan retensi pada gigi tiruan sebagian lepasan, serta memelihara sisa gigi dan jaringan pendukungnya. Persiapan mulut ini dapat meliputi berbagai cabang kedokteran gigi, antara lain (11):

1. Persiapan bedah

Gigi yang tidak dapat dipertahankan lagi sebaiknya harus dilakukan pencabutan sebelum pembuatan gigi tiruan (5,11).

2. Persiapan konservasi dan endodontik

Perawatan  konservasi dilakukan untuk memperbaiki gigi yang karies atau untuk melindungi gigi penyangga pada pasien yang rentan karies, serta untuk memperoleh bentuk mahkota gigi yang dapat mendukung gigi tiruan agar cukup retensi (5). Selain itu, perawatan konservasi dapat mengurangi resiko akumulasi plak pada gigi yang mengalami karies (14). Perawatan endodontik akan memungkinkan pemeliharaan gigi yang dapat menjadi penyangga gigi tiruan yang akan dibuat (11).

3. Persiapan periodontik

Pasien anak sering membutuhkan prosedur periodontik terutama untuk penderita gingivitis karena adanya karang gigi dan akumulasi plak. Kebersihan mulut anak perlu diperhatikan, agar mendapatkan hasil yang baik dalam perawatan (14).

Dokter gigi perlu memberikan penjelasan yang dapat dimengerti anak sebelum melakukan pencetakan rahang karena anak-anak belum memiliki pengalaman mengenai tahap pencetakan (14). Hasil yang optimal dapat diperoleh dengan mengetahui  beberapa pertimbangan dalam pencetakan (4), antara lain:

1.  Pemilihan sendok cetak

Pencetakan pada anak menggunakan sendok cetak ukuran kecil (7). Berbagai macam ukuran sendok cetak yang cocok pada anak sudah tersedia dan dapat digunakan dalam berbagai macam keadaan (4). Sendok  cetak kaku yang berlubang telah tersedia dalam berbagai ukuran yang sesuai untuk anak-anak (14). Ukuran yang telah dianjurkan untuk pencetakan adalah jarak anatara gigi dan sendok cetak sekitar 3 mm, dengan perluasan distal yang cukup.

2.  Pemilihan bahan cetak

Pemilihan bahan cetak akan menentukan keberhasilan suatu pencetakan. Bahan cetak yang sebaiknya digunakan adalah alginat, dapat digunakan jenis regular setting maupun fast setting (4). Alginat yang digunakan untuk anak-anak biasanya yang masa pengerasannya relatif pendek (3). Perlu diperhatikan perbandingan air dan bubuk sesuai dengan petunjuk dari pabrik untuk mendapatkan hasil yang optimal (4).

3.   Mengatasi refleks mual

Pasien pada umumnya akan merasa mual pada saat melakukan pencetakan, oleh karena itu perlu penanganan yang tepat untuk mencegah atau mengontrol refleks mual. Refleks mual pada anak dapat dicegah dengan menggunakan bahan cetak yang memiliki rasa, meminta anak berkumur dengan air hangat yang berisi cairan anastetik sehingga memberikan rasa kebal, anak diminta bernafas teratur, atau juga mengalihkan perhatian anak pada hal-hal lain sampai pencetakan selesai dilakukan (4,14). Kelebihan bahan cetak sebaiknya dihindari agar tidak mengalir ke orofaring. Anak dapat juga dialihkan perhatiannya dengan memberikan sedikit bahan cetak yang belum mengeras pada jarinya. Anak diinstruksikan untuk bernapas melalui hidung serta menundukkan kepalanya ke depan (14). Penggunaan  suction atau penyedot saliva untuk membuang saliva dapat digunakan untuk mencegah refleks mual pada anak (3).

4.   Pencetakan rahang bawah

Pencetakan rahang bawah biasanya dilakukan dahulu untuk menghindari rasa mual dan rasa takut anak. Dokter gigi berdiri di samping kanan depan anak saat menyiapkan sendok cetak. Jari tangan diletakkan di daerah molar sendok cetak dan ibu jari di bawah rahang bawah, pada posisi tersebut anak tidak akan dapat merubah posisi sendok cetak, demikian juga dengan pergerakan badan atau kepala (3). Anak diminta untuk mendorong lidahnya keluar untuk mendapatkan kontraksi otot milohioid (14). Hasil cetakan jika sudah baik tidak terdapat cacat atau rusak maka dilanjutkan dengan pencetakan rahang atas (3).

 

 

5.   Pencetakan rahang atas

Posisi dokter pada pencetakan rahang atas yaitu berdiri di samping kanan belakang anak, kemudian sendok cetak dimasukkan. Penekanan dengan jari tengah atau telunjuk kedua tangan pada daerah posterior sendok cetak dan ibu jari berada di atas arkus zigomatikus. Penekanan pada sendok cetak yang berada dalam mulut anak pada rahang atas maupun rahang bawah adalah pada bagian posterior terlebih dahulu kemudian pada daerah anterior (14).

Gigi  tiruan pada anak terdiri atas landasan gigi tiruan, cangkolan dan elemen gigi tiruan (4). Landasan pada umumnya dibuat dari resin akrilik karena mudah dimodifikasi mengikuti pertumbuhan dan perkembangan gigi serta erupsi gigi (14). Landasan sebaiknya dibuat transparan dan cukup kuat saat dipakai makan (4). Gigi tiruan rahang atas didisain dari landasan akrilik, tetapi gigi tiruan sebagian rahang bawah dapat dirancang dari konektor logam untuk menambah retensi yang lebih baik (10,14) Landasan gigi tiruan sebagian lepasan dibuat menutupi permukaan palatal/lingual gigi-gigi yang ada dan daerah interdental dengan tujuan mendapatkan stabilitas dan retensi (3).

Cangkolan dibuat dari kawat logam tahan karat dan diperlukan untuk mendapatkan retensi serta dukungan dari gigi atau jaringan lunak. Jenis cangkolan yang digunakan pada gigi tiruan sebagian lepasan antara lain cangkolan Adam, cangkolan bola, dan cangkolan sirkumferensial (4). Cangkolan suatu gigi tiruan perlu dirancang dengan akurat, karena jika tidak akan mempengaruhi terhadap peningkatan aktivitas karies (3).

Disain gigi tiruan perlu diperhatikan faktor-faktor di bawah ini (4,14):

1.  Garis fulkrum merupakan garis khayal yang membagi dua daerah tidak bergigi dan berfungsi untuk menentukan tempat dan arah cangkolan, selain itu perluasan   landasan gigi tiruan harus memperhatikan nilai beban kunyah di sebelah kanan dan kiri garis fulkrum.

2.  Arah pemasangan cangkolan pada gigi kaninus dari mesial ke distal, cara tersebut disesuaikan dengan bererupsinya gigi insisif tetap dan bergesernya gigi kaninus sulung ke arah distal. Cangkolan tidak menempel pada gigi dan diberi jarak 0,5 mm, dengan tujuan tidak menghambat pertumbuhan.

3.   Pemakaian pada rahang bawah dalam jangka waktu yang panjang sebaiknya dibuat lingual bar dari logam dengan arah 2 mm lebih ke lingual dari jaringan lunak.

4.   Perkembangan alveolar akan berjalan ke arah lateral, maka disain landasan dibuat sampai 1/3 forniks atau kurang lebih sejajar dengan puncak alveolar (alveolar crest), dengan tujuan agar tidak menghambat pertumbuhan.

5.   Perluasan sayap bukal pada rahang atas dibuat rendah  dan  warna harus sesuai dengan jaringan sekitarnya. Landasan akrilik pada rahang atas harus menutupi seluruh bagian palatum dengan tujuan untuk mendapatkan retensi dan stabilisasi.

6.   Jurusan pemasangan gigi tiruan memudahkan pasien dalam pemakaian.

7.  Kesehatan jaringan yang tersisa dalam pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan lebih ditujukan untuk memelihara dan mempertahankan jaringan yang tersisa.

8.  Faktor estetis berpengaruh pada penampilan, maka harus disesuaikan dengan kepribadian pasien, antara lain dalam hal warna gigi, bentuk gigi, penyusunan gigi, dimensi vertikal, panjang dan lebar gigi.

Pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak dapat dilihat dari pertimbangan  berdasarkan usia, dapat digolongkan sebagai berikut  (6) :

1.   Usia 2,5–3 tahun

Cangkolan pada gigi kaninus sulung tidak boleh memberikan tekanan, hal ini ditujukan untuk memberikan kesempatan rahang bergerak ke anterior. Cangkolan untuk gigi molar sulung harus dibuat dengan tangan cangkolan harus mengelilingi permukaan terluar gigi. Hal ini ditujukan karena mahkota gigi molar sangat pendek. Selain itu pada rahang atas perluasan landasan harus menutupi palatum sampai batas daerah getar atau  vibrating line. Perluasan ke arah bukal atau labial pada umumnya pendek tidak melebihi sampai ke forniks. Pada rahang bawah dianjurkan menggunakan lingual bar yang ditempatkan 2 mm dari jaringan lunak.

2.   Usia 5,5 – 6 tahun

Cangkolan  yang digunakan adalah cangkolan Adam dan cangkolan C. Cangkolan

C harus dilepas dari landasan pada saat erupsi gigi incisivus tetap dan gigi molar pertama dan dilakukan perbaikan. Gigi molar pertama yang telah bererupsi seluruhnya dapat dijadikan gigi sandaran untuk perawatan selanjutnya. Landasan yang digunakan berupa tissue conditioner pada bagian labial dan bukal dengan tujuan agar pertumbuhan rahang tidak terhambat.

3.   Usia 7 – 8 tahun

Usia 7–8 tahun terjadi pertumbuhan pada daerah anteroposterior, sehingga panjang landasan harus pendek dan sesuai dengan warna jaringan lunak, selain itu digunakan  tissue conditioner pada daerah pertumbuhan. Cangkolan C digunakan untuk gigi molar pertama tetap.

4.   Usia 12 tahun

Erupsi  gigi  telah  lengkap,   kecuali  gigi  molar  ketiga,  selain  itu  pertumbuhan

rahang berjalan lambat, sehingga untuk penyesuaian gigi tiruan sebagian lepasan dapat lebih mudah.

Prinsip biomekanik merupakan prinsip mekanika yang memperhitungkan respon dari jaringan hidup. Prinsip biomekanik merupakan dasar penting dalam mendisain gigi tiruan sebagian lepasan. Prinsip biomekanik yang harus diperhatikan dalam mendisain gigi tiruan meliputi (17):

1.  Timbulnya ungkitan dari gigi tiruan yang menyebabkan terjadinya daya pada gigi sandaran (daya torsi).

Perbedaan kompresibilitas antara jaringan periodontal dan jaringan lunak akan menyebabkan landasan akan bergerak menurun pada saat terkena beban fungsional/beban kunyah. Turunnya landasan ini, menimbulkan ungkitan dan menyebabkan gigi sandaran menjadi longgar.

2.  Penyebarluasan beban kunyah pada masing-masing jaringan.

Gigi tiruan harus di dukung oleh gigi dan linggir alveolar, selain itu beban fungsional seimbang di antara jaringan lunak dan gigi yang masih ada.

3.  Faktor yang mempengaruhi besarnya daya yang disalurkan pada gigi sandaran.

4.  Pertimbangan kemampuan fisiologis.

Mendapatkan prognosa yang baik dapat ditentukan dengan membagi daya fungsional secara seimbang antara gigi sandaran dan linggir alveolar, sehingga efek ungkitan dapat dikurangi serta tidak menerima daya oklusal yang melebihi batas kemampuan fisiologis.

Rencana perawatan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak dengan kehilangan gigi sejak lahir yang disebabkan oleh faktor genetik lebih sulit, terutama jika dibandingkan dengan tanggalnya gigi dengan keadaan masih terdapat gigi kodratnya, sebab pada kehilangan gigi sejak lahir akan sulit untuk menentukan disain yang akan dibuat karena tidak terdapat oklusi gigi sebelumnya (14).

Keberhasilan atau kegagalan penggunaan alat gigi tiruan sebagian lepasan pada anak didukung oleh tiga faktor utama yaitu (3,5,6)  :

1.  Kemampuan dokter gigi

Dokter gigi dan tekniker harus dapat merancang gigi tiruan yang mampu beradaptasi dengan baik sesuai bentuk anatomi gigi yang hilang. Kemampuan dokter gigi dalam memberikan motivasi kepada pasien dapat mempengaruhi keberhasilan dalam penggunaan gigi tiruan.

2.  Usia pasien

Berdasarkan penelitian, penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak usia 2,5 tahun dan usia 5 tahun tidak ditemukan adanya perubahan, perbaikan atau kesulitan yang berarti. Penggunaan gigi tiruan lepasan dapat disesuaikan dengan usia pasien sehingga dapat dilakukan perbaikan atau penggantian gigi tiruan lepasan.

3.  Kerjasama orang tua

Memberikan informasi secara langsung mengenai pemakaian gigi tiruan kepada pasien maupun orang tua pasien sehingga mempermudah dalam penggunaan dan pemeliharaan, selain itu orang tua yang berpengalaman dalam pemakaian gigi tiruan lepasan dapat membantu anaknya dalam memakai dan merawat gigi tiruan tersebut.

Keberhasilan dalam pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan pada anak, dapat ditentukan dengan memberikan informasi dan instruksi-instruksi khusus pada pasien maupun orang tua, yaitu (3,4,5,7):

1.  Instruksi pada anak

Anak diberi penjelasan dengan bahasa yang sederhana, sehingga anak dapat memberikan kerjasama yang baik, selain itu anak dianjurkan untuk memberitahukan kepada orang tuanya jika ada keluhan pada pemakaian gigi tiruan.

Memberikan motivasi terutama pada anak usia 2 – 5 tahun agar gigi tiruan tidak dilepas dari dalam mulut tanpa sepengetahuan orang tua. Pemasangan gigi tiruan pertama  kali dilakukan oleh dokter dengan menggunakan cermin untuk melihat cara memasang dan melepas gigi tiruan, setelah itu anak dapat mencoba sendiri. Gigi tiruan sebagian lepasan sebaiknya dilepas pada saat berolah raga dan pada saat malam hari, gigi tiruan direndam dalam air dan dibersihkan setiap hari dengan bantuan orang tua.

2.  Instruksi orang tua

Orang  tua  diharapkan  ikut  melihat  pada saat  anak  memasang dan melepas

gigi tiruan, selain itu jika anak tidak memakai gigi tiruan karena ada keluhan rasa sakit pada gusi maka orang tua diharapkan segera untuk menghubungi dokter gigi untuk mengatasi masalah yang dikhawatirkan mengganggu pemakaian gigi tiruan tersebut.

Pemakaian  gigi tiruan sebagian lepasan dapat mengakibatkan perubahan patologis, jika tidak mengikuti instruksi mengenai pemeliharaan kebersihan mulut (1). Dampak yang timbul antara lain bertambahnya akumulasi plak, meningkatnya frekuensi karies, terjadi  denture stomatitis dan menyebabkan gigi tetangga menjadi goyang.

Perawatan yang dilakukan untuk mengurangi faktor-faktor yang mengakibatkan keluhan pada pasien  yaitu (1) :

1. Pasien dianjurkan untuk menyikat gigi setiap hari terutama sebelum tidur.

2. Gigi tiruan pada waktu tidur dilepas dan disimpan dalam gelas yang berisi air, setiap hari harus dibersihkan.

3.  Denture stomatitis terjadi karena pemakaian gigi tiruan yang diakibatkan trauma pada mukosa. Perawatan yang diperhatikan antara lain posisi cangkolan agar tidak melukai jaringan sekitar.

4.  Pengurangan bagian oklusal dari gigi tiruan dilakukan jika terjadi kontak prematur antara gigi antagonisnya.

5.  Cangkolan dan sayap landasan yang merupakan retensi dari gigi tiruan harus sesuai dengan disain, agar gigi tiruan tidak mudah lepas.

Setelah gigi tiruan sebagian lepasan digunakan anak, untuk tahap berikutnya dilakukan pengontrolan secara berkala kurang lebih 4 – 6 minggu, jika tidak ada keluhan dan perkembangan normal, soft acrylic yang digunakan sebagai sayap landasan akan keluar dan dilakukan penyesuaian dengan cara mengurangi akrilik tersebut. Bertambahnya usia anak, maka suatu gigi tiruan sebagian lepasan memerlukan penyesuaian secara periodik untuk mengikuti pola pertumbuhan dan perkembangan rahang, serta erupsi gigi tetap anak (7).

 

KESIMPULAN

Gigi tiruan sebagian lepasan merupakan alat yang dapat digunakan untuk menggantikan gigi yang hilang dan memperoleh dukungan dari jaringan sekitarnya. Tujuan penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak untuk mempertahankan jaringan yang ada serta mengembalikan fungsi mastikasi, bicara, penampilan dan mencegah kebiasaan buruk dengan tidak menghambat pertumbuhan dan perkembangan gigi. Keberhasilan perawatan tergantung dari kemampuan dokter gigi, usia pasien dan kerjasama orang tua.

 

SARAN

Orang tua pasien sebaiknya memberikan informasi dan instruksi khusus kepada anak dengan memberikan motivasi, selain itu memperhatikan petunjuk pemakaian alat yang diberikan oleh dokter gigi agar perawatan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan prosedur yang ada.Dokter gigi, terutama spesialis kedokteran gigi anak sebaiknya  memiliki  pengetahuan  dan  keterampilan  yang  cukup untuk merawat kehilangan gigi secara dini dengan memperhatikan usia pertumbuhan dan disain pada alat yang digunakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Gunadi, H.A. 1995. Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan. Jilid 1. Hal 12, 30-50, 108-111 Jakarta: Hipokrates

 

  1. Andlaw, R.J. and W.P. Rock. 1993. A Manual of Paedodontics. 3rd ed. London: Churchill Livingstone.

 

  1. Lindahl, R.L. 1964. Removable Denture Prosthetis. 4th  ed. Hal: 271-285. McGraw-Hill Book Company Inc.

 

  1. Finn, S.B. 2003. Clinical Pedodontics. 4th ed. Hal 309-31, 360-3. Philadelphia: W.B Saunders Company inc.

 

  1. Goodarce, C.J dan Brown, T.D, 1994. Prosthodontic Treatment of the Adolescent Patient Care. Editor: Sthephen H.Y.Wei. Philadelphia: Lea and Febiger.

 

  1. McDonald, R.E. and D.R. Avery, 2000. Dentistry forThe Child and Adolescent. 7th ed. Saint Louis: Mosby

 

  1. Andajani, T. 1993. Penanggulangan Kerusakan Gigi yang Parah dengan Gigi Tiruan Tumpang.  Volume 2. Hal 571-580. Jakarta: Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi Usakti.

 

  1. Heartwell, C.M. and Rahn, A.O. 1986. Glossary of Prosthodontics. Fourth edition. Philadelphia: Lea and Febriger.

 

  1. McCracken’s. 1995. Removable Partial Prosthodontics. 9th  ed. St. Louis: C.V. Mosby Company.

 

  1. Dykema, E.W, Cunningham, D.M, and Johnston, J.F. 1978. Modern practice in removable partial prosthodontics. Philadelphia- London- Toronto: W.B Saunders Company.

 

  1. Blakesslee, R.W., et al. 1980.  Dental Technology Theory and Practice. Hal: 113-5, 120-1, 313-15.  St. Louis-Toronto-London: C.V. Mosby Company

 

  1. Dyson, J.E. 1988. Prosthodontic for Children. Hal: 259-68. Philadelphia: Lea and Febriger.

 

  1. Herman, W. 1980. Majalah Kedokteran Gigi. Volume 1. Bandung: Yabina.

 

  1. Mathewson, R.J and Primosch, R.E. 1995. Fundamentals of Pediatric Dentistry. 3rd  ed. Hal: 356-9. Chicago: Quintessence Books.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: