Just another WordPress.com site

Archive for the ‘Patologi Klinik’ Category

Anemia

Anemia

 

 

 

•      Definisi :

     Ketidak-mampuan darah untuk mensuplai oksigen ke dalam jaringan guna memenuhi kebutuhan metabolisme.

•     Anemia bukan penyakit, tetapi gejala suatu kelainan à harus dicari sebabnya.

•     Anemia à penurunan :

–  Hemoglobin

–  Hematokrit

–  Jumlah eritrosit

 

Penyebab anemia :

•            Kehilangan darah berlebihan

•            Gangguan pembentukan eritrosit.

•            Peningkatan destruksi (penghancuran) eritrosit.

Kehilangan darah berlebihan

•     Akut

•     Kronis

 

Gangguan Pembentukan Eritrosit

•             Defisiensi bahan pembentuknya :

•           Defisiensi besi (Fe)

•           Defisiensi vit.B12

•           Defisiensi asam folat

•             Akibat lain :

•           Defek intrinsik (membran, enzim)

•           Defek ekstrinsik (hemolisis non-imum, hemolisis imun)

 

Gejala klinis anemia :

•      Pucat

•      Lemah badan

•      Malas bergerak (malaise)

•      Dyspnoe d’effort

•      Pusing

•      Sakit kepala

•      Tinitus

•      Irritabilitas

•      Susah tidur/susah konsentrasi

•      Gangguan pencernaan

Pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis anemia :

•     Pemeriksaan Hematologi Dasar

•     Pemeriksaan hematologi untuk menentukan jenis dan etiologi anemia

Pemeriksaan hematologi dasar :

•     Kadar hemoglobin

•     Hematokrit

•     Jumlah eritrosit

 

Pemeriksaan untuk menentukan jenis dan etiologi anemia :

•     Indeks eritrosit

•     Morfologi darah tepi

•     Hitung retikulosit

•     Morfologi sumsum tulang

Hemoglobin (Hb) :

•     Komponen utama eritrosit

•     Secara fisiologis pembawa oksigen ke jaringan

•     Buffer thd.CO2 yang terbentuk pada metabolisme

 

Metoda penentuan kadar Hb :

•     Sianmethemoglobin (*)

•     Oksihemoglobin

•     Pengukuran thd kandungan besi

•     Kolorimetri* :

–  Sahli (*)

–  Talqvist

Metoda Sahli :

     Darah + Asam (HCl) à acid hematin (coklat)

warna coklat dibandingkan dgn warna standar

Kekurangan metoda Sahli :

-      Warna acid hematin tdk stabil

-      Warna standar tdk stabil

-      Kalibrasi pada tabung sangat rapat

Metoda Sianmethemoglobin

     Hb + K3Fe(CN)6 à methemoglobin + KCN à Sianmethemoglobin (dibaca dgn fotometer pada panjang gelombang 540 nm)

Keuntungan metoda ini : larutannya stabil

 

Kesalahan pada pengukuran Hb

Tidak baiknya :

•      Penganbilan sampel

•      Penanganan sampel

•      PersiapanPenyimpanan reagensia

•      Alat/petugas

 

 

 

 

Nilai rujukan normal Hb

Kelompok umur                                  Hb (g/dL)

————————————————-

Bayi Baru Lahir                                  14.0 – 22.0

Bayi 6 bln                                            11.0 – 14.0

Anak-anak (1-15 th)                11.0 – 15.0

Dewasa laki-laki                      14.0 – 18.0

Dewasa perempuan                 12.0 – 16.0

 

 

Berdasarkan kadar Hb

•     Anemia ringan (Hb  10 – 11 g/dL)*

•     Anemia sedang (Hb 7 – 10 g/dL)

•     Anemia berat (Hb < 7 g/dL)

 

Hematokrit :

•    Packed Red Blood Cell Volume

•    Packed Cell Volume (PCV)

•    Volume eritrosit yg dimampatkan

•    Yaitu rasio antara volume eritrosit dgn volume darah lengkap, dinyatakan dalam %

 

 

 

Pengukuran :

•    Metode Sentrifugasi

•    Cara makro : Darah dgn.antikoagulan dimasukkan dalam tabung yg pj 100 mm, disentrifus 3000 rpm selama 30 menit. Hasil langsung dibaca pada skala pada tabung.

Dalam praktek anemia diklasifikasi berdasarkan ukuran eritrosit, yaitu :

•      Anemia (hipokrom) mikrositer

•      Anemia normositer

•      Anemia makrositer

 

 

Anemia Hipokrom Mikrositer

•      Defisiensi Fe

•      Talasemia

•      Penyakit Kronis

•      Sideroblastik

•    Cara mikro :

Darah dimasukkan pada tabung kapiler pj 7 mm diameter 1 mm, sentifus 11.000-15.000 rpm/5 menit, baca dengan alat khusus

Perhitungan à pada alat otomatis

•     Nilai rentang normal

•     Dewasa :

•     Laki-laki                 42 –  52%

•     Perempuan              37 – 47%

•     Masalah pada pengukuran hematokrit antara lain :

•     – Kalibrasi sentrifus yang tidak tepat

•     – Pemilihan tempat pengambilan darah

•     – Rasio darah dan antikoagulan tidak tepat

•     – Kesalahan pembacaan

 

INDEKS ERITROSIT
Volume absolut eritrosit

•    Yaitu nilai-nilai yg menggambarkan keadaan eritrosit, yaitu

•    Perhitungan yg menyatakan besar-nya volume eritrosit dan kadar hemoglobin dalam setiap sel

 

Indeks ini meliputi :

•    1.Volume Eritrosit Rata-rata

•    2.Hemoglobin Eritrosit Rata-rata

•    3.Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata

VOLUME ERITROSIT RATA-RATA

•    Mean Corpuscular Volume (MCV)

•    Adalah nilai hematokrit dibagi dengan jumlah eritrosit dikalikan 10, dan dinyatakan dalam mikrokubik atau femtoliter (fL)

                       Ht (%)

•    MCV = ———————–  X 10 fL

              Jml.eri (juta/uL)

•    Nilai normal 80 – 100 fL

HEMOGLOBIN ERITROSIT RATA-RATA

•    Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH)

•    Adalah kadar hemoglobin dibagi dengan jumlah eritrosit, dikalikan 10 dan dinyatakan dalam pikogram (pg)

                      Hb (g/dL)

•    MCH = ———————— X 10 pg

                Jml.eri (juta/uL)

•    Nilai normal 27 – 31 pg

 

KONSENTRASI HEMOGLOBIN ERITROSIT RATA-RATA

•    Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC)

•    Adalah kadar hemoglobin dibagi dengan nilai hematokrit, dikali 100, dan dinyatakan dalam %.

                    Hb (g/dL)

•    MCHC = ——————- X 100 %

                     Ht (%)

•    Nilai normal 32 – 36 %

 

MORFOLOGI SEDIAAN HAPUS DARAH TEPI

•    Pewarnaan Wright, Giemsa

•    Eritrosit normal berbentuk bikonkaf, diameter 7-8 um.

•    Pada s.h : berwarna kemerahan, bgn tepi gelap, makin ke tengah makin pucat

•    Normal :

•    volume, ukuran dan bentuk relatif sama

•    Mikrositosis

•    Makrositosis

•    Anisositosis

•    Hipokrom

•    Polikromasi / polikromatofilia

•    Bentuk abnormal :

Sferosit

Leptosit

Skistosit

Stomatosit

Sel pensil

Ovalosit

Eritrosit berinti

•    Benda inklusi :

Basophilic stippling

Howell Jolly bodies

Heinz bodies

Cabot’s ring

Granula sideroblastik

Ringer sideroblast

Pappenheimer bodies

HITUNG RETIKULOSIT

Tahap akhir proses pematangan eritrosit

Pewarnaan supravital (BCB)

Nilai normal : 0,2 – 2 %

Bayi baru lahir : 2 – 6 %

 

PEMERIKSAAN SEDIAAN HAPUS SUMSUM TULANG

•    Tempat pengambilan

•    Kandungan

•    Dry tap

•    Cara pengambilan

Kesan :

Kepadatan sel

ME ratio

Maturasi sel sumsum tulang

Lain-lain

Persentase sel berbeda-beda, karena :

•    Data mengenai sumsum tulangnormal sulit diperoleh

•    Kriteria menentukan kematangan sel beerbeda

•    Rentang variasi antara orang normal sangat lebar

•    Teknik pemeriksaan bermacam-macam

Anemia Hipokrom Mikrositer

•      Eritrosit : lebih kecil dan lebih pucat

•      Penyebab terbanyak : defisiensi besi

•      Hipokrom mikrositer jelas bila :

–    Hb < 11 g%

–    Ht < 35 %

•      Bila Hb < 9 g% dan Ht < 27 % à anisositosis, poikilositosis, sel target

•      Kadang-kadang : jumlah trombosit meningkat

Anemia Hipokrom Mikrositer (cont.)

•      Talasemia :

–   Heterozigot : sulit dibedakan dgn an.def.Fe

–   Homozigot :

•   Anisopoikilositosis

•   Sel Target 5-30% dari seluruh eritrosit

•   Normoblast (+)

•   Basophilic stippling (+)

•   Peningkatan retikulosit, leukosit dan trombosit

Anemia Hipokrom Mikrositer (cont.)

Anemia Sideroblastik :

•      Ringan :

–   Sulit dibedakan a/t khas gambaran dimorfik

•      Berat :

–   Banyak sel target

–   Siderosit (+)

Anemia Hipokrom Mikrositer (cont.)

   Pemeriksaan lanjutan à  untuk mencari penyebab :

     – sumsum tulang

     – elektroforesis Hb

     – kadar Fe serum

     – TIBC

Anemia normositer disertai peningkatan produksi eritrosit :

•             Penilaian morfologi eritrosit à bila sebagian besar sferosit/mikrosferosit, kemungkinannya adalah :

•           Sferositosis

•           Anemia imunohemolitik

•           Hemoglobinopati

•           Hipersplenism

       Bila dijumpai adanya fragmentosit à anemia hemolitik mikroangiopati

Anemia normositer disertai peningkatan produksi eritrosit :

b. Pemeriksaan lain :

–   Sumsum tulang à hiperplasia

–   Bilirubin serum meningkat

–   Urobilinogen urin meningkat

–   Hemoglobinemia, hemoglobinuria, hemosiderinuria à hemolisis intravaskuler

Anemia normositer disertai peningkatan produksi eritrosit :

c. Penentuan jenis hemolisis

–   Coombs’ tes :

•   Positif : anemia imunohemolitik

•   Negatif : tgt.temuan lain

–   Sferositosis (+) : uji ketahanan osmotik
–   Sferositosis (-) :penetapan enzim (G6PD), elektroforesis Hb dll

Anemia normositer disertai penurunan produksi eritrosit :

•      Umumnya disebabkan penyakit lain (sekunder)

•      Biasanya karena pendesakan sumsum tulang, misalnya oleh tumor

•      S.h.d.t : anisositosis poikilositosis

•      S.h.s.t : spesifik à aplastik, leukemia, mielofibrosis

Anemia Normositer

Dibedakan atas :

-      Disertai peningkatan produksi eritrosit :

-     Polikromasi

-     Retikulosit meningkat

-      Disertai penurunan produksi eritrosit

Anemia normositer disertai peningkatan produksi eritrosit :

•      Retikulositosis dijumpai pada :

–   Perdarahan akut

–   Proses hemolitik

   Bila perdarahan dapat disingkirkan, pemeriksaan selanjutnya ke arah anemia hemolitik.

Anemia Makrositer

Eritrosit yang makrositer dijumpai pada :

•      Anemia megaloblastik (defisiensi vit.B12, asam folat)

•      Penyakit hati

•      Keadaan yang disertai retikulositosis

 

Anemia megaloblastik karena defisiensi vit.B12 atau defisiensi asam folat :

•      Eritrosit makrositik

•      Leukopenia dan trombositopenia

•      Hipersegmentasi

•      Sel batang raksasa (Giant Stab)

•      Anisositosis poikilositosis

 

Anemia megaloblastik karena penyakit hati :

•      Ukuran eritrosit tidak begitu besar

•      Jarang disertai anisositosis poikilositosis

•      Kadang-kadang dijumpai sel target yang besar

 

Anemia megaloblastik karena retikulositosis

•      Eritrosit berukuran lebih besar

•      Polikromasi

•      Kadang-kadang eritrosit mengandung bintik-bintik basofil halus

Anemia Defisiensi Fe

•      Anemia of chronic blood loss

•      Nutritional hypochromic anemia

•      Penyebab anemia yang paling sering dijumpai (> 50%) à jadi harus dipelajari secara lengkap

 

Anemia defisiensi Fe (cont.)

Chlorosis :

-      bhs Yunani à hijau (green)

-      Dipakai untuk setiap kelainan yg pertama kali ditemukan oleh Johannes Lange (1554)

-      Green sickness

-      Terutama menyerang gadis remaja (14-17 th) à de morbo virginio

 

Anemia defisiensi Fe (cont.)

Gejala :

-      pucat, terutama kulit muka

-      Sesak napas

-      Berdebar-debar

-      Kaki oedem

-      Nafsu makan menurun

-      Flatulens

-      Nyeri perut

-      Konstipasi

-      Gangguan emosi : depresi, mudah tersinggung

-      Lesu, murung, dll

 

Anemia defisiensi Fe (cont.)

•      Abad 17 Syndenham menyarankan pengobatan dengan Fe, hasilnya baik à disebut anemia defisiensi Fe.

•      Definisi : suatu keadaan dimana penyediaan zat Fe tidak sesuai dengan eritropoiesis yang optimal

 

Anemia defisiensi Fe (cont.)

Metabolisme Fe

-      jumlah Fe dalam tubuh orang dewasa + 4000 mg dengan perincian :

-     65% (2600 mg) dalam Hb

-     29% (1160 mg) dalam bentuk Feritin dan Hemosiderin

-     3,5% (140 mg) dalam bentuk myoglobin

-     0,2 % (8 mg) dalam bentuk heme enzyme, yaitu : cytochrom, katalase, peroxidase dll.

-     0,1 % (4 mg) dalam bentuk Fe transferin complex

-     0,2 % (8,8 mg) dalam bentuk labile iron pool

 

 

 

Anemia defisiensi Fe (cont.)

•       Fe dalam makanan : Fe(OH)3

•      Dalam lambung akan dibebaskan menjadi Fe3+ atas pengaruh asam lambung

•      Di usus halus Fe3+ à Fe2+ atas pengaruh alkali, kmd diserap oleh sel-sel mukosa usus halus.

•      Sebagian akan disimpan dalam bentuk Ferritin, sebgn masuk ke peredaran darah, berikatan dengan β globulin, disebut Transferin

 

Anemia defisiensi Fe (cont.)

•      Transferin digunakan untuk pembentukan Hb

•      Sebagian transferin yang tidak dipakai disimpan dalam bentuk labile iron pool

•      Fe dalam tubuh dipakai berulang-ulang (efisien) dan dalam keadaan normal ekskresinya sangat minimal (rata-rata 1 mg/hari melalui urin dan feses)

Anemia defisiensi Fe (cont.)

Etiologi :

-      pada anak-anak : kekurangan Fe dalam diet, sedang kebutuhannya meningkat.

-      Pada orang dewasa :

-     Kebutuhan meningkat : kehamilan, menstruasi

-     Kehilangan darah kronis : ankylostomiasis, metro-menorrhagia, hemorrhoid, ulcus pepticum, Ca lambung/usus

-     Gangguan absorpsi : gastrectomy total, diarrhea yang sangat lama, steatorrhoea, dll

Pemeriksaan Laboratorium

•             Hb : kadar Hb menurun. Karena terjadi kekurangan Fe, sedang Fe diperlukan untuk sintesis Hb, maka yg pertama menurun adalah kadar Hb. Biasanya di bawah 10 g%

•             Jumlah eritrosit : bisa normal atau sedikit menurun.

•             MCHC : menurun. Biasanya < 30 % à hipokrom; MCH : bisa normal atau sedikit menurun. Bila anemia bertambah berat, eritrosit akan mengecil à mikrositer (MCV < 74 fL)

 

Pemeriksaan lab (cont.)

4. Shdt :

     Eritrosit hipokrom mikrositer

5. Retikulosit menurun

6. Kadang dap ditemukan ovalosit dan sel target

7. Trombosit dan leukosit normal

Pemeriksaan lab (cont.)

8. Shst : hiperplasi sistem eritropoiesis, namun hanya sampai tahap normoblast basofil. Normoblast berukuran lebih kecil, sitoplasmanya lebih sedikit dan warnanya lebih biru.

     Bila di terapi Fe à retikulositosis

     Sideroblast negatif atau sangat berkurang

Pemeriksaan lab (cont.)

9. Kimia darah

     Fe serum menurun, penurunan ini terjadi sebelum timbul gejala anemia.

     TIBC meningkat

 

 

Terapi

•      Preparat Fe

•      Usahakan mencari penyebab

•      Prognosa : biasanya baik

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.