Just another WordPress.com site

Resin Komposit

BAB I

PENDAHULUAN

Bahan resin komposit diperkenalkan dalam profesi kedokteran gigi pada awal tahun 1960. Resin komposit digunakan untuk menggantikan struktur gigi yang hilang serta memodifikasi warna dan kontur gigi, serta menambah estetis. Bahan resin komposit sudah sangat luas digunakan di bidang kedokteran gigi sebagai bahan tumpatan yang mementingkan estetik (restorative esthetic material). Pada umumnya resin komposit yang dipasarkan adalah bahan universal yang berarti dapat digunakan untuk restorasi gigi anterior maupun posterior. Pada akhir tahun 1996 diperkenalkan resin komposit packable atau resin komposit condensable. Resin komposit packable merupakan resin komposit dengan viskositas yang tinggi. Resin komposit packable direkomendasikan untuk restorasi klas I, II dan MOD.

Dalam ilmu kedokteran gigi istilah resin komposit secara umum mengacu pada penambahan polimer yang digunakan untuk memperbaiki enamel dan dentin. Resin komposit digunakan untuk mengganti struktur gigi dan memodifikasi bentuk dan warna gigi sehingga akhirnya dapat mengembalikan fungsinya. Resin komposit dibentuk oleh tiga komponen utama yaitu resin matriks, partikel bahan pengisi, dan bahan coupling.

Resin komposit termasuk bahan tumpatan langsung yang sewarna dengan gigi. Resin komposit digunakan untuk menggati struktur gigi yang hilang, memodifikasi warna gigi dan kontur sehingga menambah estetika wajah.

 BAB 2

BAHAN RESTORASI RESIN KOMPOSIT

Istilah bahan komposit mengacu pada kombinasi tiga dimensi dari sekurang-kurangnya dua bahan kimia yang berbeda dengan satu komponen pemisah yang nyata diantara keduanya. Bila konstruksi tepat, kombinasi ini akan memberikan kekuatan yang tidak dapat diperoleh bila hanya digunakan satu komponen saja. Bahan restorasi resin komposit adalah suatu bahan matriks resin yang di dalamnya ditambahkan pasi anorganik (quartz, partikel silica koloidal) sedemikian rupa sehingga sifat-sifat matriksnya ditingkatkan.

2.1 Komposisi

Komposisi resin komposit tersusun dari beberapa komponen. Kandungan utama yaitu matriks resin dan partikel pengisi anorganik. Disamping kedua bahan tersebut, beberapa komponen lain diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dan ketahanan bahan. Suatu bahan coupling (silane) diperlukan untuk memberikan ikatan antara bahan pengisi anorganik dan matriks resin, juga aktivator-aktivator diperlukan untuk polimerisasi resin. Sejumlah kecil bahan tambahan lain meningkatkan stabilitas warna (penyerap sinar ultra violet) dan mencegah polimerisasi dini (bahan penghambat seperti hidroquinon). Komponen-komponen tersebut diantaranya:

2.1.1. Resin matriks

Kebanyakan bahan komposit menggunakan monomer yang merupakan diakrilat aromatik atau alipatik. Bisphenol-A-Glycidyl Methacrylate (Bis- GMA), Urethane Dimethacrylate (UDMA), dan Trietilen Glikol Dimetakrilat (TEGDMA) merupakan Dimetakrilat yang umum digunakan dalam resin komposit (Gambar 1). Monomer dengan berat molekul tinggi, khususnya Bis-GMA amatlah kental pada temperatur ruang (250C). Monomer yang memiliki berat molekul lebih tinggi dari pada metilmetakrilat yang membantu mengurangi pengerutan polimerisasi. Nilai polimerisasi pengerutan untuk resin metil metakrilat adalah 22 % V dimana untuk resin Bis-GMA 7,5 % V. Ada juga sejumlah komposit yang menggunakan UDMA ketimbang Bis-GMA.

Gambar 1. Resin Bis-GMA, UDMA digunakan sebagai basis resin ,

sementara TEGDMA digunakan sebagai pengencer. (Powers JM, Sakaguchi RL. CRAIGS’S Restorative Dental Materials. 12th ed. Missouri : Evolve, 2003 : 229)

            Bis-GMA dan UDMA merupakan cairan yang memiliki kekentalan tinggi karena memiliki berat molekul yang tinggi. Penambahan filler dalam jumlah kecil saja menghasilkan komposit dengan kekakuan yang dapat digunakan secara klinis. Untuk mengatasi masalah tersebut, monomer yang memiliki kekentalan rendah yang dikenal sebagai pengontrol kekentalan ditambahkan seperti metil metkrilat (MMA), etilen glikol dimetakrilat (EDMA), dan trietilen glikol dimetakrilat (TEGDMA) adalah yang paling sering digunakan.

2.1.2. Partikel bahan pengisi

Penambahan partikel bahan pengisi kedalam resin matriks secara signifikan meningkatkan sifatnya. Seperti berkurangnya pengerutan karena jumlah resin sedikit, berkurangnya penyerapan air dan ekspansi koefisien panas, dan meningkatkan sifat mekanis seperti kekuatan, kekakuan, kekerasan, dan ketahanan abrasi. Faktor-faktor penting lainnya yang menentukan sifat dan aplikasi klinis komposit adalah jumlah bahan pengisi yang ditambahkan, ukuran partikel dan distribusinya, radiopak, dan kekerasan.

2.1.3. Bahan Pengikat

Bahan pengikat berfungsi untuk mengikat partikel bahan pengisi dengan resin matriks. Adapun kegunaannya yaitu untuk meningkatkan sifat mekanis dan fisik resin, dan untuk menstabilkan hidrolitik dengan pencegahan air. Ikatan ini akan berkurang ketika komposit menyerap air dari penetrasi bahan pengisi resin. Bahan pengikat yang paling sering digunakan adalah organosilanes (3-metoksi-profil-trimetoksi silane) (Gambar 2). Zirconates dan titanates juga sering digunakan.

O OCH 3

║ │

CH2=C–C–O–CH2CH2CH2–Si–OCH 3

│ │

CH3 OCH3

Gambar 2. 3-methacryloxypropyltrimethoxysilane. (Powers JM, Sakaguchi RL. CRAIGS’S Restorative Dental Materials. 12th ed. Missouri : Evolve, 2003 : 193)

2.2. Sifat – sifat Resin Komposit

Sama halnya dengan bahan restorasi kedokteran gigi yang lain, resin komposit juga memiliki sifat. Ada beberapa sifat – sifat yang terdapat pada resin komposit, antara lain:

2.2.1. Sifat fisik

Secara fisik resin komposit memiliki nilai estetik yang baik sehingga nyaman digunakan pada gigi anterior. Selain itu juga kekuatan, waktu pengerasa dan karakteristik permukaan juga menjadi pertimbangan dalam penggunaan bahan ini. Sifat-sifat fisik tersebut diantaranya:

  1. Warna

Resin komposit resisten terhadap perubahan warna yang disebabkan oleh oksidasi tetapi sensitive pada penodaan. Stabilitas warna resin komposit dipengaruhi oleh pencelupan berbagai noda seperti kopi, teh, jus anggur, arak dan minyak wijen. Perubahan warna bisa juga terjadi dengan oksidasi dan akibat dari penggantian air dalam polimer matriks. Untuk mencocokan dengan warna gigi, komposit kedokteran gigi harus memiliki warna visual (shading) dan translusensi yang dapat menyerupai struktur gigi. Translusensi atau opasitas dibuat untuk menyesuaikan dengan warna email dan dentin.

  1. Strength

Tensile dan compressive strength resin komposit ini lebih rendah dari amalgam, hal ini memungkinkan bahan ini digunakan untuk pembuatan restorasi pada pembuatan insisal. Nilai kekuatan dari masing-masing jenis bahan resin komposit berbeda.

  1. Setting

Dari aspek klinis setting komposit ini terjadi selama 20-60 detik sedikitnya waktu yang diperlukan setelah penyinaran. Pencampuran dan setting bahan dengan light cured dalam beberapa detik setelah aplikasi sinar. Sedangkan pada bahan yang diaktifkan secara kimia memerlukan setting time 30 detik selama pengadukan. Apabila resin komposit telah mengeras tidak dapat dicarving dengan instrument yang tajam tetapi dengan menggunakan abrasive rotary.

2.2.2. Sifat mekanis

Sifat mekanis pada bahan restorasi resin komposit merupakan faktor yang penting terhadap kemampuan bahan ini bertahan pada kavitas. Sifat ini juga harus menjamin bahan tambalan berfungsi secara efektif, aman dan tahan untuk jangka waktu tertentu. Sifat-sifat yang mendukung bahan resin komposit diantaranya yaitu :

a. Adhesi

Adhesi terjadi apabila dua subtansi yang berbeda melekat sewaktu berkontak disebabkan adanya gaya tarik – menarik yang timbul antara kedua benda tersebut. Resin komposit tidak berikatan secara kimia dengan email. Adhesi diperoleh dengan dua cara. Pertama dengan menciptakan ikatan fisik antara resin dengan jaringan gigi melalui etsa. Pengetsaan pada email menyebabkan terbentuknya porositas tersebut sehingga tercipta retensi mekanis yang cukup baik. Kedua dengan penggunaan lapisan yang diaplikasikan antara dentin dan resin komposit dengan maksud menciptakan ikatan antara dentin dengan resin komposit tersebut (dentin bonding agent).

b. Kekuatan dan keausan

Kekuatan kompresif dan kekuatan tensil resin komposit lebih unggul dibandingkan resin akrilik. Kekuatan tensil komposit dan daya tahan terhadap fraktur memungkinkannya digunakan bahan restorasi ini untuk penumpatan sudut insisal.

Akan tetapi memiliki derajat keausan yang sangat tinggi, karena resin matriks yang lunak lebih cepat hilang sehingga akhirnya filler lepas.

2.2.3. Sifat khemis

Resin gigi menjadi padat bila berpolimerisasi. Polimerisasi adalah serangkaian reaksi kimia dimana molekul makro, atau polimer dibentuk dari sejumlah molekul – molekul yang disebut monomer. Inti molekul yang terbentuk dalam sistem ini dapat berbentuk apapun, tetapi gugus metrakilat ditemukan pada ujung – ujung rantai atau pada ujung – ujung rantai percabangan. Salah satu metakrilat multifungsional yang pertama kali digunakan dalam kedokteran gigi adalah resin Bowen (Bis-GMA) .

Resin ini dapat digambarkan sebagai suatu ester aromatik dari metakrilat, yang tersintesa dari resin epoksi (etilen glikol dari Bis-fenol A) dan metal metakrilat. Karena Bis-GMA mempunyai struktur sentral yang kaku (2 cincin) dan dua gugus OH, Bis-GMA murni menjadi amat kental. Untuk mengurangi kekentalannya, suatu dimetakrilat berviskositas rendah seperti trietilen glikol dimetakrilat (TEDGMA) ditambahkan.

2.3. Mekanisme Perlekatan Resin Komposit pada Struktur Gigi

            Jika sebuah molekul berpisah setelah penyerapan kedalam permukaan dan komponen-komponen konstituen mengikat dengan ikatan ion atau kovalen. Ikatan adhesive yang kuat sebagai hasilnya. Bentuk adhesive ini disebut penyerapan kimia, dan dapat merupakan ikatan kovalen atau ion.

Selain secara kimia perlekatan pada resin komposit juga terjadi secara mekanis atau retensi, perlekatan yang kuat antara satu zat dengan zat lainnya bukan gaya tarik menarik oleh molekul. Contoh ikatan semacam ini seperti penerapan yang melibatkan penggunaan skrup, baut atau undercut. Mekanisme perlekatan antara resin komposit dengan permukaan gigi melalui dua teknik yaitu pengetsaan asam dan pemberian bonding.

2.3.1. Teknik etsa asam

Sebelum memasukan resin, email pada permukaan struktur gigi yang akan ditambal diolesi etsa asam. Asam tersebut akan menyebabkan hydroxiapatit larut dan hal tersebut berpengaruh terhadap hilangnya prisma email dibagian tepi, inti prisma dan menghasilkan bentuk yang tidak spesifik dari struktur prisma. Kondisi tersebut menghasilkan pori-pori kecil pada permukaan email, tempat kemana resin akan mengalir bila ditempatkan kedalam kavitas.

Bahan etsa yang diaplikasikan pada email menghasilkan perbaikan ikatan antara permukaan email-resin dengan meningkatkan energi permukaan email. Kekuatan ikatan terhadap email teretsa sebesar 15-25 MPa. Salah satu alasannya adalah bahwa asam meninggalkan permukaan email yang bersih, yang memungkinkan resin membasahi permukaan dengan lebih baik. Proses pengasaman pada permukaan email akan meninggalkan permukaan yang secara mikroskopis tidak teratur atau kasar. Jadi bahan etsa membentuk lembah dan puncak pada email, yang memungkinkan resin terkunci secara mekanis pada permukaan yang tidak teratur tersebut. Resin “tag” kemudian menghasilkan suatu perbaikan ikatan resin pada gigi. Panjang tag yang efektif sebagai suatu hasil etsa pada gigi anterior adalah 7-25 μm.

Asam fosfor adalah bahan etsa yang digunakan. Konsentrasi 35 %-50 % adalah tepat, konsentrasi lebih dari 50 % menyebabkan pembentukan monokalsium fosfat monohidrat pada permukaan teretsa yang menghambat kelarutan lebih lanjut. Asam ini dipasok dalam bentuk cair dan gel dan umumnya dalam bentuk gel agar lebih mudah dikendalikan. Asam diaplikasikan dan dibiarkan tanpa diganggu kontaknya dengan email minimal selama 15-20 detik.

Begitu dietsa, asam harus dibilas dengan air selama 20 detik dan dikeringkan dengan baik. Bila email sudah kering, harus terlihat permukaan berwarna putih seperti bersalju menunjukan bahwa etsa berhasil. Permukaan ini harus terjaga tetap bersih dan kering sampai resin diletakan untuk membuat ikatan yang baik. Karena email yang dietsa meningkatkan energi permukaan email. Teknik etsa asam menghasilkan penggunaan resin yang sederhana.

2.3.2. Bahan bonding

Adhesive dentin harus bersifat hidrofilik untuk menggeser cairan dentin dan juga membasahi permukaan, memungkinkan berpenetrasinya menembus pori di dalam dentin dan akhirnya bereaksi dengan komponen organik atau anorganik. Karena matriks resin bersifat hidrofobik, bahan bonding harus mengandung hidrofilik maupun hidrofobik. Bagian hidrofilik harus bersifat dapat berinteraksi pada permukaan yang lembab, sedangkan bagian hidrofobik harus berikatan dengan restorasi resin.

A. Bahan bonding email

Email merupakan jaringan yang paling padat dan keras pada tubuh manusia. Email terdiri atas 96 % mineral, 1 % organik material, dan 3 % air. Mineral tersusun dari jutaan kristal hydroksiapatit (Ca10 (PO4)6 (OH)2) yang sangat kecil. Dimana tersusun secara rapat sehingga membentuk perisma email secara bersamaan berikatan dengan matriks organik. Pada perisma yang panjang bentuknya seperti batang dengan diameter sekitar 5 μm. Krital hidroksiapatit bentuknya heksagonal yang tipis, karena strukrur seperti itu tidak memungkinkan mendapatkan susunan yang sempurna. Celah diantara kristal dapat terisi air dan material organik. Bahan bonding biasanya terdiri atas bahan matriks resin BIS-GMA yang encer tanpa pasi atau hanya dengan sedikit bahan pengisi (pasi).      Bahan bonding email dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan membasahi email yang teretsa. Umumnya, kekentalan bahan ini berasal dari matriks resin yang dilarutkan dengan monomer lain untuk menurunkan kekentalan dan meningkatkan kemungkinan membasahi. Bahan ini tidak mempunyai potensi perlekatan tetapi cendrung meningkatkan ikatan mekanis dengan membentuk resin tag yang optimum pada email. Beberapa tahun terakhir bahan bonding tersebut telah digantikan dengan sistem yang sama seperti yang digunakan pada dentin. Peralihan ini terjadi karena manfaat dari bonding simultan pada enamel dan dentin dibandingkan karena kekuatan bonding.

B. Bahan bonding dentin

Dentin adalah bagian terbesar dari struktur gigi yang terdapat hampir diseluruh panjang gigi dan merupakan jaringan hidup yang terdiri dari odontoblas dan matriks dentin. Tersusun dari 75 % materi inorganik, 20 % materi organik dan 5 % materi air. Didalam matriks dentin terdapat tubuli berdiameter 0,5-0,9 mm dibagian dentino enamel jungsion dan 2-3 mm diujung yang berhubungan dengan pulpa. Jumlah tubuli dentin sekitar 15-20 ribu /mm didekat dentino enamel jungtion dan sekitar 45-65 ribu dekat permukaan pulpa.

Penggunaan asam pada etsa untuk mengurangi terbentuknya microleakage atau kehilangan tahanan tidak lagi menjadi resiko pada resin dipermukaan enamel. Permasalahan timbul pada resin dipermukaan dentin atau sementum. Pengetsaan asam pada dentin yang tidak sempurna dapat melukai pulpa. Dentin bonding terdiri dari :

Dentin Conditioner

Fungsi dari dentin conditioner adalah untuk memodifikasi smear layer yang terbentuk pada dentin selama proses preparasi kavitas. Yang termasuk dentin conditioer antara lain asam maleic, EDTA, asam oxalic, asam phosric dan asam nitric. Pengaplikasian bahan asam kepermukaan dentin akan menghasilkan reaksi asam basah dengan hidroksiapatit, hal ini akan mengkibatkan larutnya hidroksiapatit yang menyebabkan terbukanya tubulus dentin serta terbentuknya permukaan demineralisasi dan biasanya memiliki kedalaman 4 mm. Semakin kuat asam yang digunakan semakin kuat pula reaksi yang ditimbulkan. Beberapa dari dentin conditioner mengandung glutaralhyde. Glutaralhyde dikenal sebagai bahan untuk penyambung kolagen. Proses penyambungan ini untuk menghasilkan substrat dentin yang lebih kuat dengan meningkatkan kekuatan dan stabilitas dari struktur kolagen.

  • Primer

Primer bekerja sebagai bahan adhesive pada dentin bonding agen yaitu menyatukan antara komposit dan kompomer yang bersifat hidrofobik dengan dentin yang bersifat hidrofilik. Oleh karena itu primer berfungsi sebagai prantara, dan terdiri dari monomer bifungsional yang dilarutkan dalam larutan yang sesuai. Monomer bifungsional adalah bahan pengikat yang memungkinkan penggabungan antara dua material yang berbeda. Secara umum bahan pengikat pada dentin primer dapat diformulakan sebaagai berikut (Gambar 3).

Methacrylategroup-Spacer group-Reaktive group

M-S-R

Gambar 3: Methacrylategroup-Spacer group-Reaktive group. (Cabe FJ, Walls AWG. Applied Dental Materials. 9th ed. USA : Blackwell Scientific Publications, 1984 : 231)

            M adalah gugus metakrilat yang memiliki kemampuan untuk berikatan dengan komposit resin dan meningkatkan kekuatan kovalen, S adalah pembuat celah yang biasanya meningkatkan fleksibilitas bahan pengikat. Dan R adalah reactive group yang merupakan gugus polar atau gugus terakhir (membentuk perlekatan dengan jaringan gigi). Ikatan polar ini terbentuk akibat distribusi elektron yang asimetris. Reactive group dalam bahan pengikat ini dapat berkombinasi dengan molekul polar lain di dalam dentin, seperti gugus hidroksi dalam apatit dan gugus amino dalam kolagen. Ikatan yang terjadi banyak berupa ikatan fisik tetapi bisa juga dalam beberapa kasus terjadi ikatan kimiawi.

Hidroksi ethyl metacrylate (HEMA) adalah bahan pengikat yang paling banyak digunakan. HEMA memiliki kemampuan untuk berpenetrasi kedalam permukaan dentin yang mengalami demineralisasi dan kemudian berikatan dengan kolagen melalui gugus hidroksil dan amino yang terdapat pada kolagen. Aksi dari bahan pengikat dari larutan primer adalah untuk membuat hubungan ataupun ikatan molekular antara poli (HEMA) dan kolagen.

  • Sealer (Bahan pengisi)

Kebanyakan sealer dentin yang digunakan adalah gabungan dari Bis-GMA dan HEMA. Bahan ini meningkatkan adaptasi bonding terhadap permukaan dentin.

BAB 3

RESIN KOMPOSIT SEBAGAI BAHAN TAMBALAN

            Resin komposit merupakan resin akrilik yang telah ditambah dengan bahan lain seperti bubuk quartz untuk membentuk struktur komposit.

3.1 Komposisi Resin Komposit

Resin komposit mempunyai komposisi sebagai berikut:

a)      Bahan utama/Matriks resin

b)      Filler

c)      Coupling agent

d)     Penghambat polimerisasi

e)      Penyerap UV

f)       Opacifier

g)      Pigmen warna

3.2 Struktur Resin Komposit

a)      Bahan utama/Matriks resin

Kebanyakan resin komposit menggunakan campuran monomer aromatic dan atau aliphatic dimetacrylate seperti bisphenol A glycidyl methacrylate (BIS-GMA), selain itu juga banyak dipakai adalah tryethylene glycol dimethacrylate (TEGDMA), dan urethane dimethacrylate (UDMA) adalah dimethacrylate yang umum digunakan dalam komposit gigi. Perkembangan bahan restorasi kedokteran gigi (komposit) dimulai dari akhir tahun 1950-an dan awal 1960, ketika Bowen memulai percobaan untuk memperkuat resin epoksi dengan partikel bahan pengisi. Kelemahan sistem epoksi, seperti lamanya pengerasan dan kecenderungan perubahan warna, mendorong Bowen mengkombinasikan keunggulan epoksi (CH-O-CH2) dan akrilat (CH2=CHCOO-). Percobaan-percobaan ini menghasilkan pengembangan molekul BIS-GMA. Molekul tersebut memenuhi persyaratan matrik resin suatu komposit gigi.

BIS-GMA memiliki viskositas yang tinggi sehingga membutuhkan tambahan cairan dari dimethacrylate lain yang memiliki viskositas rendah yaitu TEGDMA untuk menghasilkan cairan resin yang dapat diisi secara maksimal dengan partikel glass. Sifatnya yang lain yaitu sulit melakukan sintesa antara struktur molekul yang alami dan kurang melekat dengan baik terhadap struktur gigi.

b)      Filler

Dikenali sebagai filler inorganik. Filler inorganik mengisi 70 persen dari berat material. Beberapa jenis filler yang sering dijumpai adalah berbentuk manik-manik kaca dan batang, partikel seramik seperti quartz (SiO2), litium-aluminium silikat (Li2O.Al2O3.4SiO2) dan kaca barium (BaO) yang ditambahkan untuk membuat komposit menjadi radiopak.

Ukuran partikel yang sering dipakai berkisar antara 4 hingga 15m. Partikel yang dikategorikan berukuran besar sehingga mencapai 60m pernah digunakan tetapi permukaan tumpatan akan menjadi kasar sehingga mengganggu kenyamanan pasien.

Bentuk dari partikel juga terbukti penting karena manik-manik bulat sering terlepas dari material mengakibatkan permukaan menjadi aus. Bentuk filler yang tidak beraturan mempunyai permukaan yang lebih baik dan tersedia untuk bonding dan dapat dipertahankan di dalam resin.

Penambahan partikel filler dapat memperbaiki sifat resin komposit:

  1. Lebih sedikit jumlah resin, pengerutan sewaktu curing dapat dikurangi
  2. Mengurangkan penyerapan cairan dan koefisien ekspansi termal
  3. Memperbaiki sifat mekanis seperti kekuatan, kekakuan, kekerasan dan resisten terhadap abrasi

c)      Coupling agent

Komponen penting yang terdapat pada komposit resin yang banyak dipergunakan pada saat ini adalah coupling agent. Resin akrilik yang awal digunakan tidak berfungsi dengan baik karena ikatan antara matriks dan filler adalah tidak kuat. Melapiskan partikel filler dengan coupling agent contohnya vinyl silane memperkuat ikatan antara filler dan matriks. Coupling agent memperkuat ikatan antara filler dan matriks resin dengan cara bereaksi secara khemis dengan keduanya. Ini membolehkan lebih banyak matriks resin memindahkan tekanan kepada partikel filler yang lebih kaku. Kegunaan coupling agent tidak hanya untuk memperbaiki sifat khemis dari komposit tetapi juga meminimalisasi kehilangan awal dari partikel filler diakibatkan dari penetrasi oleh cairan diantara resin dan filler.

Fungsi bagi coupling agent adalah:

  1. Memperbaiki sifat fisik dan mekanis dari resin
  2. Mencegah cairan dari penetrasi kedalam filler-resin

Struktur komposit dapat terlihat pada gambar 1.

Gambar 1: Struktur komposit dengan matriks resin filler dan coupling agent.

d)     Bahan penghambat polimerisasi

Merupakan penghambat bagi terjadinya polimerisasi dini. Monomer dimethacrylate dapat berpolimerisasi selama penyimpanan maka dibutuhkan bahan penghambat (inhibitor). Sebagai inhibitor, sering digunakan hydroquinone, tetapi bahan yang sering digunakan pada saat ini adalah monometyhl ether hydroquinone.

e)      Penyerap ultraviolet (UV)

Ini bertujuan meminimalkan perobahan warna karena proses oksidasi. Camphorquinone dan 9-fluorenone sering dipergunakan sebagai penyerap UV.

f)       Opacifiers

Tujuan bagi penambahan opacifiers adalah untuk memastikan resin komposit terlihat di dalam sinar-X. Bahan yang sering dipergunakan adalah titanium dioksida dan aluminium dioksida.

g)      Pigmen warna

Bertujuan agar warna resin komposit menyamai warna gigi geligi asli. Zat warna yang biasa dipergunakan adalah ferric oxide, cadmium black, mercuric sulfide, dan lain-lain. Ferric oxide akan memberikan warna coklat-kemerahan. Cadmium black memberikan warna kehitaman dan mercuric sulfide memberikan warna merah.

3.3       Klasifikasi

Resin komposit dapat diklasifikasikan atas dua bagian yaitu menurut ukuran filler dan menurut cara aktivasi.

3.3.1    Ukuran filler

Berdasarkan besar filler yang digunakan, resin komposit dapat diklasifikasikan atas resin komposit tradisional, resin komposit mikrofiler, resin komposit hibrid dan resin komposit partikel hibrid ukuran kecil.

a)      Resin Komposit Tradisional

Resin komposit tradisional juga dikenal sebagai resin konvensional. Komposit ini terdiri dari partikel filler kaca dengan ukuran rata-rata 10-20μm dan ukuran partikel terbesar adalah 40μm. Terdapat kekurangan pada komposit ini yaitu permukaan tambalan tidak bagus, dengan warna yang pudar disebabkan partikel filler menonjol keluar dari permukaan seperti terlihat pada gambar 2.

Gambar 2: Partikel filler menonjol keluar permukaan tambalan.

b)      Resin Komposit Mikrofiler

Resin mikrofiler pertama diperkenalkan pada akhir tahun 1970, yang mengandung colloidal silica dengan rata-rata ukuran partikel 0.02μm dan antara ukuran 0.01-0.05μm. Ukuran partikel yang kecil dimaksudkan agar komposit dapat dipolish hingga menjadi permukaan yang sangat licin. Ukuran partikel filler yang kecil bermaksud bahan ini dapat menyediakan luas permukaan filler yang besar dalam kontak dengan resin.

c)      Resin Komposit Hibrid

Komposit hibrid mengandung partikel filler berukuran besar dengan rata-rata berukuran 15-20μm dan juga terdapat sedikit jumlah colloidal silica, dengan ukuran partikel 0.01-0.05μm seperti terlihat pada gambar 3. Perlu diketahui bahawa semua komposit pada masa sekarang mengandung sedikit jumlah colloidal silica, tetapi tidak mempengaruhi sifat-sifat dari komposit itu.

Gambar 3: Struktur komposit hibrid

d)     Resin Komposit Partikel Hibrid Ukuran Kecil

Untuk mendapatkan ukuran partikel yang lebih kecil daripada sebelumnya telah dilakukan perbaikan metode dengan cara grinding kaca. Ini menyebabkan kepada pengenalan komposit yang mempunyai partikel filler dengan ukuran partikel kurang dari 1μm, dan biasanya berukuran 0.1-1.0μm seperti terlihat pada gambar 4, yang biasanya dikombinasi dengan colloidal silica. Partikel filler berukuran kecil memungkinkan komposit dipolish permukaannya sehingga menjadi lebih rata dibanding partikel filler berukuran besar. Komposit ini dapat mencapai permukaan yang lebih rata karena setiap permukaan kasar yang dihasilkan dari partikel filler adalah lebih kecil dari partikel filler.

Gambar 4: Resin komposit partikel hibrid ukuran kecil.

Perbandingan ukuran filler dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5: Perbandingan ukuran partikel filler pada komposit.

3.3.2    Cara Aktivasi

Cara aktivasi dari resin komposit dapat dibagi dua yaitu dengan cara aktivasi secara khemis dan aktivasi mempergunakan cahaya.

3.3.2.1 Aktivasi secara khemis

Produk yang diaktivasi secara khemis terdiri dari dua pasta, satu yang mengandung benzoyl peroxide (BP) initiator dan yang satu lagi mengandung aktivator aromatic amine tertier. Sewaktu aktivasi, rantai –O–O– putus dan elektron terbelah diantara kedua molekul oksigen (O) seperti terlihat pada gambar 6. Pasta katalis dan base diletakkan di atas mixing pad dan diaduk dengan menggunakan instrument plastis selama 30 detik. Dengan pengadukan tersebut, amine akan bereaksi dengan BP untuk membentuk radikal bebas dan polimerisasi dimulai. Adonan yang telah siap diaduk kemudian dimasukkan ke dalam kavitas dengan menggunakan instrument plastis atau syringe.

Gambar 6: Aktivasi benzoyl peroxide (BP).

3.3.2.2 Aktivasi mempergunakan cahaya

Sistem aktivasi menggunakan cahaya pertama kali diformulasikan untuk sinar ultraviolet (UV) membentuk radikal bebas. Pada masa kini, komposit yang menggunakan curing sinar UV telah digantikan dengan sistem aktivasi sinar tampak biru yang telah diperbaiki kedalaman curing, masa kerja terkontrol, dan berbagai kebaikan lainnya. Disebabkan kebaikan ini, komposit yang menggunakan aktivasi sinar tampak biru lebih banyak digunakan dibanding material yang diaktivasi secara khemis.

Komposit yang menggunakan aktivasi dari sinar ini terdiri dari pasta tunggal yang diletakkan dalam syringe tahan cahaya. Pasta ini mengandung photosensitizer, Camphorquinone (CQ) dengan panjang gelombang diantara 400-500 nm dan amine yang menginisiasi pembentukan radikal bebas. Bila bahan ini, terkontaminasi sinar tampak biru (visible blue light, panjang gelombang ~468nm) memproduksi fase eksitasi dari photosensitizer, dimana akan bereaksi dengan amine untuk membentuk radikal bebas sehingga terjadi polimerisasi lanjutan. Reaksi ini dapat terlihat pada gambar 7.

Working time bagi komposit tipe ini juga tergantung pada operator. Pasta hanya dikeluarkan dari tube pada saat ingin digunakan karena terkena sinar pada pasta dapat menginisiasi polimerisasi. Pasta diisi kedalam kavitas, disinar dengan sinar biru dan terjadi polimerisasi sehingga bahan resin mengeras. Camphorquinone (CQ) menyerap sinar tampak biru dan membentuk fase eksitasi dengan melepaskan elektron seperti amine (dimetyhlaminoethyl methacrylate [DMAEMA]). Gambar “:” menerangkan elektron tunggal yang diberikan oleh amine kepada grup >C=O (ketone) didalam CQ, seperti terlihat pada gambar 7. Setelah diaktivasi, CQ memisahkan atom hidrogen daripada karbon-α yang bertentangan dengan grup amine dan hasilnya adalah amine dan radikal bebas CQ. Radikal bebas CQ ini sudah bersedia untuk diaktivasi.

Gambar 7: Resin komposit diaktivasi oleh sinar.

3.4       Finishing dan polishing

            Finishing dapat dilakukan 5 menit setelah dicuring. Finishing dilakukan dengan menggunakan pisau atau diamond stone. Finishing yang terakhir dapat dilakukan dengan mengunakan karet abrasif atau rubber cup dan disertai pasta pemolis atau disk aluminium oksida.


 

BAB 4

KESIMPULAN

 

 

4.1 Kebaikan, kerugian dan kegunaan

4.1.1    Kebaikan

Resin komposit cukup kuat untuk digunakan pada tambalan gigi posterior dan resin komposit juga tidak berbahaya seperti amalgam yang dapat menyebabkan toksisitas merkuri kepada pasien. Selain itu, warnanya yang sewarna gigi menyebabkan resin komposit digunakan untuk tujuan estetik.

4.1.2    Kerugian

Walaupun warna resin komposit sewarna gigi, tapi bahan ini dapat berubah warna selama pemakaian. Selain itu dapat juga terjadi pengerutan. Pengerutan biasanya akan terjadi dan menyebabkan perubahan warna pada marginal tambalan. Komposit dengan filler berukuran kecil dapat dipergunakan sehingga 9 tahun, lebih lekas rusak dibandingkan dengan tambalan amalgam.

4.1.3 Kegunaan resin komposit

  1. Bahan tambalan pada gigi anterior dan posterior ( direct atau inlay)
  2. Sebagai veneer mahkota logam dan jembatan (prosthodontic resin)
  3. Sebagai pasak.
  4. Sebagai semen pada orthodontic brackets, Maryland bridges, ceramic crown, inlay, onlay.
  5. Pit dan fisur sealant.
  6. Memperbaiki restorasi porselen yang rusak.

DAFTAR PUSTAKA

 

Cabe FJ, Walls AWG. Applied Dental Materials. 9th ed. USA : Blackwell Scientific Publications, 1984

Phillips, Kenneth J. Anusavice. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi 10 ed. Jakarta : EGC, 2003.

Powers JM, Sakaguchi RL. CRAIGS’S Restorative Dental Materials. 12th ed. Missouri : Evolve, 2003

Bola.net – Manchester United kalah telak 1-6 dari rival sekota, Manchester City, pada laga derby di Old Trafford, Minggu (23/10)

Kemasukan setengah lusin gol di kandang sendiri dari City merupakan rekor terburuk United dalam lebih dari 80 tahun terakhir sekaligus kekalahan terbesar Setan Merah di depan pendukungnya sendiri sepanjang sejarah Premier League.

Banyak kalangan menilai kekalahan ini bukan sekedar hilangnya tiga poin, tapi juga menjadi pukulan telak dari sisi psikologis pemain, terlebih City sebagai “tetangga yang berisik” disebut-sebut sebagai calon kuat juara Premier League musim ini.

Apalagi, Sir Alex Ferguson sendiri mengatakan bahwa kekalahan tersebut merupakan “hari dan hasil terburuk sepanjang karirnya sebagai pemain maupun pelatih”.

Namun fans United tak perlu khawatir. Pasukan Sir Alex Ferguson sebelumnya juga pernah mengalami kekalahan telak, namun di akhir musim tetap menjadi tim yang sukses mengangkat trofi juara liga. Bahkan, dari enam kekalahan telak yang dialami United, empat di antaranya berakhir dengan gelar juara untuk Setan Merah.

Berikut enam kekalahan telak yang pernah dialami skuad Ferguson sejak tahun 1989.

MANCHESTER CITY vs MANCHESTER UNITED (5-1), 23 September 1989
Terakhir kali Manchester City mempermalukan United di Maine Road sebelum era Premier League. David Oldfield mencetak dua gol, sedangkan tiga gol lainnya dicetak oleh Trevor Morley, Ian Bishop dan Andy Hinchcliffe. Mark Hughes mencetak satu-satunya gol hiburan United atas sang rival.

Ian Bishop merayakan pesta lima gol City ke gawang United di akhir 80an

MANCHESTER UNITED vs QPR (1-4), 1 Januari 1992
QPR -tim yang musim ini kembali promosi ke Premier League- sempat mengejutkan United pada awal tahun 1992. QPR unggul cepat pada lima menit awal pertandingan melalui gol Andy Sinton dan Dennis Bailey. QPR menambah dua gol melalui hattrick Bailey pada babak kedua meski Brian McClair sempat memperkecil kedudukan.
Juara liga: Leeds United


Pesta QPR di kandang Manchester United dua dekade lalu

NEWCASTLE vs MANCHESTER UNITED (5-0), 20 Oktober 1996
Newcastle United masih dilatih Kevin Keegan dan kalah 0-4 dari United pada Community Shield. Namun dua bulan setelah kekalahan telak tersebut, Newcastle dengan tim yang sama bangkit dan memukul balik United dengan skor 5-0 berkat gol-gol dari Darren Peacock, David Ginola, Les Ferdinand, Alan Shearer dan Philippe Albert.
Juara liga di akhir musim: Manchester United


Newcastle United memborbardir gawang Peter Schmeichel di St James Park

SOUTHAMPTON vs MANCHESTER UNITED (6-3), 26 Oktober 1996
Sepekan setelah dibantai Newcastle lima gol tanpa balas di St James Park, United kembali mengalami kekalahan telak. Bertandang ke markas Southampton, United kebobolan enam gol dan hanya mampu membalas tiga kali. Enam gol Soton dicetak melalui hattrick Egil Ostenstad serta gol-gol dari Berkovic dan Matt Le Tissier. Sedangkan tiga gol United dihasilkan oleh David Beckham, David May dan Paul Scholes.
Juara liga: Manchester United


Southampton pun pernah mencetak enam gol ke gawang United

CHELSEA vs MANCHESTER UNITED (5-0), 3 Oktober 1999
Gustavo Poyet sudah membobol gawang Massimo Taibi pada menit pertama di Stamford Bridge. Harapan United untuk membalas sirna setelah Nicky Butt dikartu merah dan Chelsea menambah empat gol melalui gol kedua Poyet, Chris Sutton, Jody Morris dan gol bunuh diri Henning Berg. Kemenangan telak 5-0 Chelsea ini sekaligus mengakhiri rekor 29 pertandingan tak terkalahkan milik United.
Juara liga: Manchester United


Empat gol The Reds di Old Trafford. Namun di akhir musim United tetap juara

MANCHESTER UNITED vs LIVERPOOL (1-4), 14 Maret 2009
Sekitar dua tahun lalu, United juga kalah telak di Theatre of Dreams. Cristiano Ronaldo sempat membawa United unggul lebih dulu pada menit ke-23. Liverpool membalikkan kedudukan melalui gol Fernando Torres dan penalti Steven Gerrard. Kartu merah Nemanja Vidic membuat United sulit bangkit dan Liverpool mencetak dua gol tambahan melaui Fabio Aurelio dan Andrea Dossena.
Juara liga: Manchester United

Bagaimana dengan musim ini? Akankah United kembali mengalami kekalahan telak kedua layaknya musim 1996-97 lalu tapi pada akhirnya tetap menjadi juara liga, atau City yang melaju mulus hingga akhir musim dan meraih mahkota Premier League pertama sepanjang sejarah?

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Manchester United F.C. (biasa disingkat Man Utd, Man United atau hanya MU) adalah sebuah klub sepak bola papan atas di Inggris yang berbasis di Old Trafford, Manchester,

Dibentuk sebagai Newton Heath L&YR F.C. pada 1878 sebagai tim sepak bola depot Perusahaan Kereta Api Lancashire dan Yorkshire Railway di Newton Heath, namanya berganti menjadi Manchester United pada 1902.

Meski sejak dulu telah termasuk salah satu tim terkuat di Inggris, barulah sejak 1993 Manchester United meraih dominasi yang besar di kejuaraan domestik di bawah arahan Sir Alex Ferguson – dominasi dengan skala yang tidak terlihat sejak berakhirnya era Liverpool F.C. pada pertengahan 1970-an dan awal 1980-an. Sejak bergulirnya era Premiership di tahun 1992, Manchester United adalah tim yang paling sukses dengan dua belas kali merebut trofi juara.

Meskipun sukses di kompetisi domestik, kesuksesan tersebut masih sulit diulangi di kejuaraan Eropa; mereka hanya pernah meraih juara di Liga Champions tiga kali sepanjang sejarahnya (1968, 1999, 2008).

Sejak musim 86-87, mereka telah meraih 22 trofi besar – jumlah ini merupakan yang terbanyak di antara klub-klub Liga Utama Inggris. Mereka telah memenangi 19 trofi juara Liga Utama Inggris (termasuk saat masih disebut Divisi Satu). Pada tahun 1968, mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil memenangi Liga Champions Eropa, setelah mengalahkan S.L. Benfica 4–1, dan mereka memenangi Liga Champions Eropa untuk kedua kalinya pada tahun 1999 dan sekali lagi pada tahun 2008 setelah mengalahkan Chelsea F.C. di final. Mereka juga memegang rekor memenangi Piala FA sebanyak 11 kali.[4] Pada 2008, mereka menjadi klub Inggris pertama dan klub Eropa kedua yang berhasil menjadi Juara Dunia Antarklub FIFA.

Pada 12 Mei 2005, pengusaha Amerika Serikat Malcolm Glazer menjadi pemilik klub dengan membeli mayoritas saham yang bernilai £800 juta (US$1,47 milyar) diikuti dengan banyak protes dari para pendukung fanatik.

Hal      : Permohonan pengajuan judul skripsi

 

 

 

 

Kepada Yth.

Kepala Bagian Ilmu Forensik

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Di tempat

 

Dengan Hormat,

 

Bersama ini, saya yang bertanda tangan di bawah ini :

 

Nama               : Taufik Senjaya

NPM               : 160110060148

Semester          : XI (Sebelas)

 

Pada kesempatan ini saya mencoba mengajukan judul penelitian skripsi saya yang berjudul :

 

            Gambaran Kondisi Gigi Pada Fosil Manusia Pawon Melalui Metoda    Identifikasi Forensik Kedokteran Gigi.

 

Demikian judul skripsi yang saya ajukan. Segala koreksi dan perbaikan akan saya terima dengan senang hati. Atas perhatian dan partisipasinya, saya mengucapkan terima kasih.

 

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     Bandung, 21 JULI 2009

Menyetujui,                                                                                                                                                       Pemohon,

Koordinator Bagian Forensik

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

 

 

 

 

 

Fahmi Oscandar, drg., M.Kes                                                                                                                    Taufik Senjaya

NIP. 19740419 20011001                                                                                                                         NPM. 160110060148

BAB I

PENENTUAN PROGNOSIS PERIODONTAL

 

  1. I.                   Definisi

Prognosis merupakan prediksi dari kemungkinan perjalanan penyakit, lama (durasi), dan hasil akhir dari penyakit berdasarkan pengetahuan tentang patogenesis dan keberadaan faktor risiko dari suatu penyakit. Prognosis diegakkan setelah dianosis dibuat dan sebelum rencana perawatan ditegakkan. Prognosis berdasarkan pada informasi yang spesifik tentang penyakit dan cara penyakit tersebut dapat dilakukan perawatan, tetapi hal ini dapat dipengaruhi oleh pengalaman dokter sebelumnya terhadap hasil perawatan (sukses atau gagal) yang berhubungan dengan kasus tersebut.

Prognosis seringkali dibingungkan dengan istilah risiko. Risiko secara umum merupakan kemungkinan individu yang akan memeproleh suatu penyakit dalam periode yang spesifik. Faktor risiko merupakan karakteristik individu yang meningkatkan risiko untuk memperoleh suatu penyakit. Sebaliknya, prognosis merupakan prediksi perjalanan atau hasil akhir dari penakit. Faktor-faktor prognosis merupakan karakteristik yang memprediksikan hasil akhir suatu penyakit pada saat terdapat penyakit. Dalam beberapa kasus, faktor risiko dan faktor prognosis adalah sama. Misalnya, pasien dengan penyakit diabetes atau pasien perokok merupakan pasien yang berisiko terjadi penyakit periodontal, dan di saat mereka memiliki kondisi tersebut,  maka secara umum pasien ini memiliki prognosis yang jelek.

  1. II.                Penentuan Prognosis

Prognosis dapat ditetapkan berdasarkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

  • Apakah perawatan harus dilakukan ?
  • Apakah mungkin akan berhasil ?
  • Apakah gigi-gigi yang masih ada dapat mendukung beban tambahan dari gigi              tiruan ?

Untuk penentuan prognosis secara keseluruhan, faktor-faktor berikut perlu dipakai sebagai bahan pertimbangan. Tipe dari periodontitis, misalnya padaslowly progressive periodontitisatau adult periodontitis, prognosisnya masih menjanjikan dibandingkan dengan juvenile priodontitis. Pada prepubertal periodontitis umumnya prognosis sangat jelek. Usia serta latar belakang penyakit sistemik yang diderita, adanya maloklusi, status periodontal yang dihubungkan dengan pembuatan protesa, merokok, dan kooperasi dari pasien, juga merupakan faktor penting untuk dipertimbangkan dalam penentuan prognosis.

Prognosis untuk gigi per gigi secara individual ditentukan setelah prognosis secara menyeluruh. Misalnya pada pasien dengan prognosis secara menyeluruh jelek, praktisi mungkin tidak perlu mempertahankan gigi yang prognosisnya meragukan karena kondisi lokal. Apabila akan menentukan prognosis pada suatu gigi, praktisi harus mempertimbangkan mengenai kegoyangan gigi, poket periodontal, masalah muko gingival dan furkasi, morfologi gigi, gigi-gigi tetangga dan regio yang tidak bergigi, lokasi dari tulang yang masih tertinggal pada permukaan akar, hubungan antar gigi, adanya gigi karies, gigi non vital, dan resorpsi gigi.

 

  1. III.             Penerapan Klinis Prognosis

Faktor yang harus dipertimbangkan dalam penentuan prognosis dari gigi geligi secara keseluruhan dan individual telah dijelaskan di atas. Dari hasil analisis mengenai faktor-faktor tersebut diatas, praktisi dapat menentukan kategori prognosis secara klinis sebagai berikut :

 

a. Excellent prognosis ( prognosis sempurna )

Tidak ada kehilangan tulang (bone loss), kondisi gingival yang sangat baik, pasien sangat kooperatif, tidak ada faktor sistemik/ lingkungan.

b. Good prognosis ( prognosis bagus )

Apabila terjadi satu atau lebih hal-hal sebagai berikut: dukungan tulang yang adequat, kemungkinan kontrol faktor etiologi dan pemeliharaan gigi yang adequat, pasien kooperatif, tidak ada faktor sistemik/ lingkungan, (jika ada) faktor sistemik tersebut terkontrol.

c. Fair prognosis ( prognosis sedang )

Apabila terjadi satu atau lebih hal-hal sebagai berikut: dukungan tulang yang sedikit adequat, beberapa gigi goyang, furcation involvolment grade I, kemungkinan pemeliharaan yang adequat, kerja sama pasien diterima, terdapat faktor sistemik/ lingkungan yang terbatas.

d. Poor prognosis ( prognosis jelek )

Apabila terjadi satu atau lebih hal-hal sebagai berikut: kehilangan tulang yang moderat-cepat, terdapat kegoyangan gigi, furcation involvolment grade I dan II, kesulitan dalam pemeliharaan dan atau kerja sama pasien yang ragu-ragu, terdapat faktor sistemik/ lingkungan.

 

 

e. Questionable prognosis ( prognosis yang dipertanyakan )

Apabila terjadi satu atau lebih hal-hal sebagai berikut: Kehilangan tulang yang cepat, furcation involvolment grade II dan III, kegoyangan gigi, daerahnya sulit dijangkau, terdapat faktor sistemik/ lingkungan.

f. Hopeless prognosis ( prognosis tanpa harapan )

Apabila terjadi satu atau lebih hal-hal sebagai berikut: kehilangan tulang yang cepat, daerahnya tidak dapat dilaukan pemeliharaan, indikai pencabutan, terdapat faktor sistemik/ lingkungan yang tidak terkontrol.

Berkaitan dengan penentuan prognosis, dalam beberapa kasus disarankan untuk menentukan prognosis sementara sambil menunggu terapi fase I selesai dan dievaluasi. Terapi fase I dimaksud adalah kontrol plak, kontrol diet, skeling dan penghalusan akar, koreksi restorasi, perawatan karies, perawatan antimikroba, terapi oklusal, gerakan ortodonti ringan dan splinting sementara.

Lesi yang lanjut, apabila aktif dapat cepat berkembang menjadi kelompok prognosis yang tidak ada harapan, sedang pada lesi yang sama yang dalam keadaan tenang sering masih dapat bertahan untuk waktu yang lebih lama sehingga diperlukan terapi fase I lebih dahulu. Terapi fase I paling tidak, sementara dapat mengubah lesi aktif menjadi pasif, dan ini merupakan alasan mengapa disarankan untuk menentukan prognosis sementara terlebih dahulu.

 

 

 

BAB II

RENCANA PERAWATAN PERIODONTAL

 

  1. I.                   Pendahuluan

Dalam penanganan kasus periodontal, apabila diagnosis penyakit sudah ditegakkan dan prognosis diramalkan maka langkah berikutnya adalah merencanakan perawatan yang akan dilakukan terhadap kasus tersebut. Rencana perawatan suatu kasus adalah merupakan cetak biru (blue print) bagi penanganan kasusnya. Dalam rencana perawatan tersebut tercakuplah semua prosedur yang diperlukan untuk menciptakan dan memelihara kesehatan periodonsium, antara lain: keputusan mengenai gigi mana yang dipertahankan dan gigi mana yang harus dicabut, tehnik yang dipilih untuk terapi periodontal, perlu atau tidaknya prosedur bedah mukogingival atau rekonstruktif dan koreksi oklusal, tipe retorasi yang akan dibuatkan, dan gigi yang akan digunakan sebagai gigi sandaran (abutment).

Rencana perawatan yang disusun bukanlah suatu rencana yang bersifat final. Perkembangan yang terjadi selama perawatan berjalan yang belum terdeteksi sebelumnya, bisa menyebabkan harus dimodifikasinya rencana perawatan yang telah disusun. Namun demikian, sudah menjadi ketentuan bahwa perawatan periodontal tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum disusunnya rencana perawatan, kecuali perawatan emergensi. Perawatan periodontal membutuhkan suatu perencanaan jangka panjang. Manfaat perawatan periodontal bagi pasien adalah diukur dari seberapa lama gigi geliginya masih dapat berfungsi optimal, dan bukan dari seberapa banyak gigi yang diputuskan untuk dipertahankan. Perawatan periodontal adalah lebih diarahkan untuk menciptakan dan memelihara kesehatan periodonsium di rongga mulut pasien, dan bukan untuk secara khusus mengketatkan kembali gigi yang telah mobiliti. Sehubungan dengan prinsip tersebut diatas, keselamatan gigi geligi tidak boleh terancam hanya karena keinginan untuk mempertahankan gigi yang prognosisnya adalah tanda tanya (questionable). Kondisi periodontal dari gigi yang dapat dipertahankan adalah lebih penting artinya dari jumlah gigi yang dipertahankan tersebut. Dalam merencanakan perawatan periodontal, titik tolaknya adalah gigi mana yang dapat dipertahankan dengan tingkat keraguan yang minimal dan rentang keamanan yang maksimal. Gigi yang berdasarkan penilaian prognosisnya lebih menjurus ke prognosis tidak ada harapan sebenarnya tidak bermanfaat untuk dipertahankan, meskipun gigi tersebut bebas dari karies. Gigi dengan kondisi yang demikian akan menjadi sumber gangguan bagi pasien dan mengancam kesehatan periodonsium.

 

  1. II.                Rencana Induk Untuk Perawatan Yang Komprehensif

Rencana perawatan periodontal diarahkan untuk suatu perawatan yang komprehensif, yang mengkoordinasikan semua prosedur perawatan guna menciptakan gigi geligi yang berfungsi baik dalam lingkungan periodonsium yang sehat. Rencana induk bagi perawatan periodontal terdiri dari perawatan dengan tujuan yang berbeda bagi setiap pasien sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Penyusunan rencana induk tersebut adalah didasarkan antara lain pada diagnosis kasusnya, aktivitas penyakit, serta indikasi tehnik perawatan yang dipilih.

Tujuan utama dari perawatan yang komprehensif adalah penyingkiran inflamasi gingiva dan koreksi kondisi yang menyebabkan atau memperparah inflamasi tersebut. Untuk mencapai tujuan ini, tergantung pada kasusnya, prosedur yang dilakukan adalah:

  1. Penyingkiran iritan pada permukaan akar gigi (ini mutlak harus dilakukan),
  2. Penyingkiran saku periodontal
  3. Penciptaan kontur gingiva dan hubungan mukogingival yang kondusif (menguntungkan)    dalam mempertahankan kesehatan periodonsium,
  4. Restorasi karies,
  5. Koreksi restorasi yang cacat.

 

Apabila ada masalah hubungan oklusal, mungkin pula perlu dilakukan:

  1. Penyelarasan oklusal (occlusal adjustment)
  2. Prosedur restoratif, prostetik dan ortodonti
  3.  Pensplinan (splinting)
  4. Koreksi kebiasaan bruksim (bruxism), klemping (clamping) dan klensing (clenching).

 

Kondisi sistemik pasien pun perlu dievaluasi, karena kondisi tersebut dapat:

  1. Menyebabkan perlunya perhatian khusus pada waktu melakukan prosedur perawatan
  2. Mempengaruhi respon periodonsium terhadap perawatan,
  3. Menyulitkan bagi usaha mempertahankan hasil perawatan.

 

Bagi pasien yang demikian perlu dilakukan konsultasi dengan dokter umum atau dokter spesialis yang terkait. Setelah selesainya terapi periodontal aktif perlu pula dilakukan terapi periodontal suportif (supportive periodontal therapy) agar hasil perawatan dapat terpertahankan. Prosedur yang tercakup kedalamnya adalah instruksi control plak, kunjungan berkala secara teratur dengan interval kunjungan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien, dan kondisi restorasi yang kemungkinan dapat mempengaruhi periodonsium.

 

  1. III.             Sekuens Prosedur Perawatan

Perawatan periodontal bukanlah suatu perawatan dental yang berdiri sendiri. Agar perawatan periodontal berhasil baik, terapi periodontal haruslah mencakup prosedur-prosedur kedokteran gigi lainnya sesiuai dengan kebutuhan pasien. Semua prosedur perawatan, baik prosedur yang termasuk bidang Periodonsia maupun prosedur yang bukan bidang Periodonsia disusun dalam sekuens (urutan) sebagai mana yang dikemukakan di bawah ini (yang dicetak miring adalah prosedur yang bukan bidang Periodonsia).

 

Fase preliminari/pendahuluan

  • Perawatan kasus darurat (emerjensi)
  •  Dental atau periapikal
  • Periodontal
  • Lain-lain
    • Pencabutan gigi dengan prognosis tidak ada harapan, dan pemasangan gigi tiruan sementara (bila diperlukan karena alasan tertentu)

 

Terapi fase I (fase etiotropik)

  • Kontrol plak
  • Kontrol diet (bagi pasien dengan karies rampan)
  • Penskeleran dan penyerutan akar
  • Koreksi restorasi dan protesa yang mengiritasi
  • Ekskavasi karies dan restorasi (sementara atau permanen, tergantung
  • apakah prognosis ginginya sudah final, dan lokasi karies)
  • Terapi antimikrobial (lokal atau sistemik)
  • Terapi oklusal (penyelarasan oklusal)
  • Penggerakan gigi secara ortodontik
  • Pensplinan provisional

 

Evaluasi respons terhadap fase I

  • Pengecekan kembali
  • Kedalaman saku dan inflamasi gingiva
  • Plak, kalkulus dan karies

 

Terapi fase II (fase bedah)

  • Bedah periodontal
  • Perawatan saluran akar

 

Terapi fase III (fase restoratif)

  • Restorasi final
  • Gigi tiruan cekat dan lepasan

 

Evalusi respons terhadap prosedur retoratif

  • Pemeriksaan peridontal

 

Terapi fase IV (fase pemeliharaan / terapi periodontal suportif)

  • Kunjungan berkala
  • Plak dan kalkulus
  • Kondisi gingiva (saku, inflamasi)
  • Oklusi, mobiliti gigi
  • Perubahan patologis lainnya

 

  1. IV.             Menjelaskan Rencana Perawatan Pada Pasien

Rencana perawatan yang disusun haruslah dijelaskan pada pasien. Dalammemberikan penjelasan mengenai rencana perawatan ini, disarankan untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut ini.

  1. 1.      Utarakan penjelasan secara spesifik.

Dalam memberikan penjelasan kepada pasien harus secara gamblang dikatakan “Anda menderita gingivitis” atau “Anda menderita periodontitis”, sesuai dengan diagnosis kasusnya. Kemudian pada pasien dijelaskan mengenai kondisi penyakitnya yang sebenarnya, bagaimana cara perawatannya, dan bagaimana perkiraan hasil perawatan yang akan dicapai. Harus dihindari penjelasan yang mengambang seperti: “Ada masalah pada gusi anda”, atau ” Ada sesuatu yang harus dilakukan terhadap gusi anda”. Pasien tidak akan mengerti penjelasan yang demikian, sehingga pasien akan mengabaikannya.

 

 

 

  1. 2.      Mulailah penjelasan dengan hal-hal yang positif.

Penjelasan hendaknya dimulai dengan hal-hal yang positif, misalnya mengenai gigi yang masih mungkin untuk dipertahankan dan dapat dipergunakan semaksimal mungkin. Jangan memulai penjelasan dengan hal-hal yang kurang menguntungkan seperti: “Gigi yang ini harus dicabut”. Hal yang demikian akan menimbulkan kesan negatif pada pasien yang akan mengurangi motivasinya untuk menjalani perawatan. Kepada pasien dijelaskan bahwa pada prinsipnya akan diusahakan untuk mempertahankan sebanyak mungkin gigi. Dalam memberikan penjelasan, pembicaraan jangan terlalu dititikberatkan kepada masalah giginya yang goyang. Pada pasien perlu ditekankan bahwa tujuan perawatan adalah untuk mencegah agar gigi geliginya tidak mengalami kerusakan periodonsium yang parah seperti halnya gigi yang telah goyang.

 

  1. 3.      Kemukakan keseluruhan perawatan yang direncanakan sebagai satu paket.

Dalam memberikan penjelasan harus dihindari timbulnya kesan pada pasien bahwa perawatan terdiri dari prosedur-prosedur yang terpisah, yang dapat dipilih-pilih oleh pasien. Apabila diindikasikan restorasi dan pembuatan gigi tiruan, harus dijelaskan bahwa prosedur tersebut adalah sama pentingnya dengan penyingkiran inflamasi dan saku periodontal bagi kesehatan gusinya. Dalam menjelaskan rencana perawatan harus dihindari penjelasan seperti: “Setelah perawatan gusi saudara selesai, nanti akan dibuatkan restorasi dan/atau gigi tiruan”, karena hal tersebut memberikan kesan seolah-olah prosedur-prosedur tersebut tidak saling berkaitan. Sejak awal pasien harus memahami paket perawatan yang harus dijalaninya agar perawatan kasusnya tuntas.

 

Sering sekali pasien meminta pendapat dokter gigi yang merawat mengenai keadaan kasusnya. Mereka sering melontarkan pertanyaan seperti: “Apakah gigi geligi saya masih perlu dipertahankan?”, “Seandainya hal ini terjadi pada anda, apakah anda bersedia untuk dirawat?”, “Bagaimana sekiranya dibiarkan saja, dan ditunggu sampai tiba saatnya giginya dicabut?”. Apabila keadaannya masih memungkinkan untuk dirawat, perlu dijelaskan pada pasien bahwa hasil yang maksimal akan dicapai hanya bila dilakukan perawatan yang tepat dan tuntas. Sebaliknya apabila kondisinya tidak mungkin dirawat, giginya harus dicabut. Pasien harus diberitahu, bahwa membiarkan saja gigi yang sudah tidak mungkin dirawat sampai terlepas sendiri atau dicabut bila sudah goyang sekali adalah merupakan sikap yang salah, dengan alasan:

  1. Gigi yang goyang akan menghalangi pengunyahan. Keadaan ini akan pada kebiasaan menelan makanan sebelum dikunyah halus, dengan akibat menimbulkan gangguan gastrointestinal. Karena tidak dapat mengunyah dengan baik, pasien biasanya akan memilih-milih makanan yang lunak terutama karbohidrat.
  2. Eksudat inflamasi dari saku periodontal akan merusak rasa makanan.  Apabila eksudat tersebut tercampur makanan lalu tertelan, mukosa lambung akan teriritasi dengan akibat terjadinya gastritis.
  3. Daerah saku periodontal berpotensi sebagai sumber bakteremia karena daerah tersebut dihuni oleh banyak bakteri.
    1. Apabila diindikasikan pembuatan restorasi atau jembatan pada gigi dengan penyakit periodontal yang tidak dirawat, manfaat restorasi atau jembatan menjadi berkurang karena kondisi struktur periodontal pendukung yang ada tidak dapat memberikan dukungan yang baik.
    2. Tidak disingkirkannya penyakit periodontal tidak hanya berakibat hilangnya gigi yang terlibat, tetapi akan memperpendek umur gigi gelig lainnya. Apabila dirawat dengan baik, gigi geligi yang belum terlibat tersebut akan merupakan pondasi bagi gigi geligi yang sehat dan berfungsi baik.

 

Adalah menjadi tanggungjawab dokter gigi untuk menasehati pasien mengenai pentingnya perawatan periodontal. Namun demikian, perawatan baru bisa berhasil apabila pasien cukup berminat untuk mempertahankan gigi aslinya. Pasien yang tidak punya keinginan mempertahankan gigi aslinya dan tidak merasa sayang apabila gigi aslinya dicabut, bukanlah kandidat pasien periodontal yang baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

DAFTAR PUSTAKA

  1. CARRANZA Chapter 33 (475-483), “Determination of Prognosis”, Stephen F. Goodman and Karen F. Novak
  2. 2.      ocw.usu.ac.id/…/pt_341_slide_bab_ii_-_rencana_perawatan_periodontal.pdf
  3. http://dentosca.wordpress.com/2011/04/08/penentuan-prognosis-di-bidang-periodonsia/
  4. http://www.scribd.com/doc/34869729/Diagnosis-Dan-Prognosis-Penyakit-Periodontal

CARA PENULISAN STATUS PASIEN DAN DIAGNOSIS

Sebenarnya diagnosis yang sesungguhnya baik merupakan keberhasilan dari perawatan. Diagnosis periodontal yang pertama dapat menentukan bagaimana penyakit tersebut dan juga tipe penyakit tersebut, lama penyakit, penyebaran, keparahan, dan proses patologi suatu penyakit dan juga sebabnya. Secara umum penyakit yang mengenai jaringan periodontium di bagi tiga  yaitu:

  1. Penyakit ginginva.
  2. Penyakit periodontitis.
  3. Penyakit periodontal akibat  dari manifestasi penyakit sistemik.

 

Diagnosis periodontal dapat ditentukan setelah dilakukan analisis secara hati-hati terhadap riwayat suatu penyakit dan juga dilakukan evaluasi klinis dari gejala dan penyebab  penyakit tersebut dan hasil dari berbagai tes ,contohnya kegoyangan gigi dengan menggunakan probe, radiografik, tes darah, biopsi. Diagnosis harus terdiri dari evaluasi secara umum pasien dan juga bagaimana keadaaan rongga mulut  pasien. Diagnosis yang dilakukan harus secara sistematik dan juga terorganisir agar mencapai tujuan yang spesifik atau yang diharapkan.

 

A. KUNJUNGAN PERTAMA

1. Penilaian pasien secara keseluruhan

Penilaian pasien secara keseluruhan yang meliputi status mental pasien dan juga kondisi emosional, tabiat serta sikap ,dan juga umur fisiologi pasien.

 

2. Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan pasien sangat penting karena dapat menetukan bahwa pasien tersebut peduli ataupun tidak dengan penyakitnya, dapat juga digunakan untuk ada tidaknya riwayat penyakit sistemik yang dapat mempengaruhi ataupun penyebab penyakit periodontal dan juga dapat digunakan untuk menentukan derajat keparahan suatu penyakit dan kondisinya.

 

Riwayat kesehatan pasien dapat terdiri dari ;

a)      Siapa yang merawat pasien tersebut sebelumnya, berapa lama, bagaimana terapinya. Nama, alamat, nomer telepon perawat sebelumnya serta kita harus berdiskusi dengan perawat tersebut sebelumnya

b)      Detail penyakit pasien jika pernah dirawat di rumah sakit dan juga operasinya, macam operasinya, bagaimana anestesinya, pendarahannya atau komplikasi infeksinya .

c)      Obat-obatan apa yang pernah pasien terima serta dosis dan lamanya penggunaan obat.

d)     Riwayat dari seluruh penyakitnya seperti penyakit kardiovaskuler, hematologic, endokrin, dan juga penyakit infeksinya, penyakit seksual, HIV.

e)      Abnormalitas dari pendarahan, spontan ataupun tidak.

f)       Apakah pasien mempunyai riwayat alergi bisa dari makanan , minuman, obat-obatan.

g)      Informasi yang didapat jika pasien telah melewati masa pubertas, untuk perempuan, menopause, menstruasi, kehamilan.

h)      Riwayat penyakit keluarga ataupun mempunyai penyakit keturunan seperti diabetes mellitus dan penyakit pendarahan.

 

3. Riwayat pengobatan gigi

Banyak pasien yang tidak peduli pada kondisi pada rongga mulutnya terutama keadaan giginya . Riwayat kesehatan gigi dapat terdiri dari :

a)      Kunjungan ke dokter gigi.

b)      Kebersihan rongga mulut, meyikat gigi, bagaimana cara menyikat gigi yang baik dan benar, frekuensinya, tipe dari sikat gigi dapat juga dengan menggunakan obat kumur.

c)      Perawatan ortodontik.

d)     Rasa nyeri di gigi atau di gusi.

e)      Rasa tidak enak dimulut dan juga terdapat daerah impaksi makanan.

f)       Gusi berdarah.

g)      Kegoyangan gigi.

h)      Kebiasaan pasien.

i)        Riwayat penyakit gigi sebelumnya meliputi apakah pernah dilakukan operasi atau tidak, berapa lama, bagaimana terapinya.

 

4.Evaluasi radiografi

Minimum terdiri dari 14 foto intraoral dan juga 4 foto  bitewing . Foto panoramik juga dapat digunakan untuk medeteksi lesi kelainan pada gigi, rahang serta kelainan patologis dan juga fraktur.

Gambaran radiografi intra oral yang digunakan untuk diagnosis periodontal

5.Model cetakan gigi

Dapat digunakan sebagai bantuan visual dalam berdiskusi dengan pasien antara sebelum dan sesudah perawatan serta dapat digunakan untuk evaluasi  pada saat kunjungan berikutnya. Model dari cetakan gigi sangat berguna dalam pemeriksaan kondisi rongga mulut.  Model dari cetakan gigi dapat menunjukkan batas gusi (gingival margins), dan posisi serta inklinasi dari gigi – geligi, kontak proksimal gigi, dan area impaksi makanan. Model gigi merupakan suatu rekam medik gigi yang penting sebelum dilakukan perawatan. Model gigi juga dapat digunakan untuk menjelaskan kepada pasien rencana perawatan yang akan dilakukan.

 

6. Foto klinis

Foto ini berguna untuk merekam jaringan sebelum dan setelah perawatan.

 

7. Review pemeriksaan awal

Jika tidak diperlukan perawatan darurat, pasien diinstruksikan untuk melakukan kunjungan kedua. Sebelum kunjungan kedua, pemeriksaan  radiografi dan model cetakan gigi digunakan untuk mengetahui perubahan radiografi untuk kondisi yang tidak dapat diketahui dari model cetakan gigi. Model cetakan gigi diperiksa untuk mengetahui adanya keadaan yang abnormal dalam rongga mulut, hubungan crossbite, atau kondisi lain yang dapat menyebabkan gangguan oklusal atau impaksi makanan. Pemerikasaan radiografi dan model cetakan gigi sangat membantu dalam melakukan diagnosis, bagaimana pun, itu adalah pemeriksaan klinis di rongga mulut yang merupakan dasar untuk diagnosis.

 

B. KUNJUNGAN KEDUA

I. Pemeriksaan rongga mulut

1. Oral hygiene

Kebersihan rongga mulut dapat meliputi kebersihan dari debris, plak, materi alba, kebersihan permukaan gigi dari noda. Larutan disclosing dapat digunakan untuk menentukan adanya plak. Banyaknya plak tidak dapat dihubungkan dengan keparahan dari suatu penyakit periodontal.

 

2. Bau mulut

Bau mulut yang berasal dari faktor lokal dari lidah dan juga sulkus gingival dan terdiri dari partikel-partikel makanan diantara gigi, karies, necrotizing ulcerative gingivitis, perokok. Sedangkan bau mulut yang berasal dari luar terdiri dari lesi yang mengenai saluran pernafasan misalnya bronchitis, pneumonia.

 

  1. Pemeriksaan rongga mulut

Pemeriksaan rongga mulut meliputi pemeriksaan lidah, bibir, dasar mulut, palatum, regio oroparyngeal dan juga kualitas dan kuantitas saliva.

 

  1. II.                Pemeriksaan gigi
    1. Kariesnya.
    2. Perkembangan gigi
    3. Anomali bentuk gigi
    4. Kegoyangan gigi

Kegoyangan gigi terjadi dalam dua tahapan yaitu:

  • Inisial   atau   tahap   intrasoket,   yakni   pergerakan   gigi   yang   masih   dalam batas   ligamen   periodontal.
  • Tahapan kedua, terjadi secara bertahap dan memerlukan deformasi elastik tulang alveolar sebagai respon terhadap meningkatnya tekanan horizontal.

Menurut Fedi dkk (2004), kegoyahan gigi dibedakan menjadi :

n  i. Derajat 1 – kegoyangan gigi yang sedikit lebih besar dari normal

n  ii. Derajat 2 – kegoyangan gigi sekitar 1 mm

n  iii. Derajat 3 – kegoyangan gigi lebih dari 1 mm pada segala arah atau gigi dapat ditekan ke arah apikal.

  1. Hipersensitifitas

Permukaan akar yang terlihat oleh karena resesi gusi peka terhadap perubahan suhu atau rangsangan. Pasien sering mengarahkan operator ke daerah sensitive yang dirasakan pasien. Operator dapat mengetahui lokasi daerah yang sensitive tersebut dengan menggunakan probe atau semprotan udara.

 

  1. Hubungan kontak proksimal

Kontak yang sedikit terbuka dapat mengakibatkan impaksi dari makanan. Hubungan kontak proksimal dapat diperiksa dari observasi klinis menggunakan benang gigi.

 

  1. Migrasi gigi patologis

Migrasi ini dapat disebabkan oleh karena suatu lesi atau kelainan , gaya yang abnormal yang mengenai gigi serta kebiasaan buruk pasien, contoh penyakit peridontitis agresif lokalisata.

 

  1. Sensitifitas terhadap perkusi

Sensitifitas terhadap perkusi dapat menunjukan adanya inflamasi akut yang mengenai jaringan periodontal.

 

  1. Abrasi

Abrasi adalah keauasan permukaan gigi karena proses mekanis yang terjadi pada struktur gigi

Gambaran abrasi gigi karena penyikatan yang tidak benar

 

  1. Atrisi

Atrisi adalah hilangnya jaringan gigi ataupun restorasi karena proses pengunyahan atau karena kontak oklusal atau proksimal di antara gigi.

 

  1. Erosi

Erosi adalah hilangnya jaringan keras gigi yang progresif karena proses kimia.

Gambaran erosi gigi yang mengenai email,dentin dan cementum.

  1. Trauma oklusi

Trauma oklusi dapat disebabkan karena adanya gaya yang mengenai gigi secara berlebihan sehingga dapat merusak jaringan periodontal dan juga gaya tersebut tidak disebarkan secara merata keseluruh permukaan gigi.

 

  1. III.              Pemeriksaan peridonsium

Pemeriksaan periodonsium harus sistematik, dimulai dari regio molar baik   pada  maksilla   maupun   mandibula  kemudian  diteruskan  ke seluruh rahang.

Hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap ini adalah:

  1. Pemeriksaan plak dan kalkulus,

banyak metode yang digunakan untuk memeriksa plak dan kalkulus. Kalkulus dan plak supragingival dapat dideteksi menggunakan probe.

.

  1. Gingiva,

pemeriksaan gingiva  dapat dilakukan secara visual dan juga menggunakan alat ataupun secara palpasi untuk medeteksi kelainan patologis, lokasi serta ada atau tidaknya pus. Gambaran gingiva meliputi kontur, konsistensi, ukuran, warna, posisi, pendarahan, struktur permukaan  serta rasa sakit.

 

  1. Poket periodontal,

pemeriksaan poket ini meliputi kedalaman poket serta tipe poket (Infraboni atau supraboni). Mendeteksi adanya poket dapat dilakukan dengan menggunakan probe, poket tidak dapat dideteksi menggunakan foto Rontgen. Kedalaman poket dibagi menjadi dua yaitu kedalaman poket biologi adalah jarak antara gingival margin dengan dasar poket, kedalaman probe adalah jarak dari instrumen probe berpenetrasi kedalam poket.

 

  1. Penentuan   aktivitas   penyakit,

penentuan dari kedalaman poket atau attcahment levels tidak dapat memberikan informasi bahwa lesi tersebut aktif ataupun sedang tidak aktif. Sekarang ini tidak ada metode yang benar-benar mengetahui bahwa lesi tersebut aktif ataupun tidak. Pada lesi yang tidak aktif akan menunjukan sedikit atau tidak ada pendarahan saat dilakukan probing dan sedikit jumlah dari cairan gingiva, bakteri flora, dapat dilihat dark-field mikroskopi, terdiri dari banyaknya sel-sel cocoid. Lesi yang aktif akan mengeluarkan banyak darah saat dilakukan probing dan banyak mengeluarkan  cairan gingival dan exudate, banyak terdapat spirochaeta dan bakteri motil. Pada pasien dengan penyakit periodontitis agresif yang cepat atupun tidak,dapat menunjukan banyak perbedaan saat dilakukan probing. Penentuan aktivitas penyakit secara seksama merupakan pengaruh langsung dari diagnosis, prognosis dan terapinya. Hasil dari terapi dapat berubah, tergantung dari keparahan lesi/luka periodontal.

 

  1. Jumlah   gingiva   cekat,

penentuan jumlah gingiva cekat sangat penting untuk menentukan adanya hubungan antara dasar poket dengan batas mukogingival. Lebar dari gingival cekat adalah jarak diantara mukogingival junction dan proyeksi dari bagian luar permukaan dari dasar sulkus gingiva dari  poket periodontal. Metode lain yang digunakan adalah menentukan jumlah dari attached gingival mendorong memasukan berdekatan mukosa koronal dengan instrumen tumpul ataur warnai mukosa dengan larutan Schiller’s potassium iodide, yang mana berupa noda pada keratin.

  1. Alveolar   bone   loss,

Alveolar bone loss atau kehilangan tulang alveolar dapat diketahui pemeriksaan klinis dan radiografi. Probing dapat membantu mengetahui tinggi dan bentuk fasial dan lingual tulang yang diketahui dari pemeriksaan radiografi dan bentuk dari kehilangan tulang daerah interdental. Probing trasngingival dapat digunakan setelah dilakukan anestesi pada daerah yang akan dilakukan probing, metode ini sangat akurat untuk mengevaluasi dan memberikan informasi dari bentuk kehilangan tulang.

 

  1. Palpasi,

palpasi bagian dari prosedur diagnosis yang mencakup pemeriksaan bagian tubuh tertentu dengan menggunakan tangan atau ujung jari . Palpasi pada mukosa oral dibagian lateral dan apikal daerah sekitar akar gigi dapat menetukan letak rasa sakit yang pasien rasakan. Infeksi yang dalam pada jaringan periodontal dan merupakan awal dari terjadinya abses periodontal dapat di deteksi dengan cara palpasi.

 

  1. Supurasi,

supurasi adalah pembentukan pus akibat dari adanya peradangan. Beberapa studi mengatakan bahwa adanya hubungan antara supurasi dengan penyakit periodontitis tetapi persentasinya sangat rendah(3% sampai 5%).

Gambaran pus yang mengalir diantara sinus gigi caninus dengan gigi premolar pertama

 

  1. Abses peridontal

abses periodontal terjadi secara lokalisata serta terdapat akumulasi pus didalamnya , abses ini dapat terjadi secara akut atau kronis.

Gambaran periodontal abses  akut dengan disertai adanya poket periodontal di bagian labial, mesial pada gigi insisivus sentral rahang atas.

 

C. SKRINING PERIODONTAL dan SISTEM PENCATATAN

Skrining periodontal dan sistem pencatatan didesain secara mudah dan cepat untuk pengisian status pasien oleh dokter gigi . digunakan probe dengan ujungnya mempunyai ukuran 0,5 mm dan mempunyai kode yang berwarna pada alat tersebut serta terdapat ukuran  mulai dari 3.5 sampai 5.5 mm. rongga mulut pasien dibagi menurut enam segmen yaitu rahang atas kanan, anterior, dan kiri, rahang bawah kiri, anterior, kanan. Pembagian kodenya adalah

  • Kode 0 adalah gusinya sehat tidak ada pendarahan saat probing serta tidak ada kalkulus
  • Kode 1 adalah tidak ada kalkulus tetapi terdapat pendarahan saat probing , pengobatannya dengan pembuangan plak subgingival dan mejaga kebersihan rongga mulutnya.
  • Kode 2 adalah terjadi pendarahan saat probing , kalkulus supragingival dan subgingival, pengobatannya dengan pembuangan kalkulus, koreksi jika ada tambalan serta menjaga kebersihan rongga mulutnya.
  • Kode 3 adalah jika probe masuk sebagian terdapat pada dua atau lebih regio maka harus dilakukan pemeriksaan mulut secara keseluruhan serta pemeriksaan jaringan periodontal.
  • Kode 4 adalah jika ukuran probe masuk semua maka harus dilakukan pemeriksaan mulut secara keleseuruhan serta juga pemeriksaan jaringan periodontal.
  • Kode * adalah jika sudah terjadi kegoyangan gigi, masalah mucogingival, gingival resesi.

 

 

D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Untuk MENUNJANG DIAGNOSIS KLINS

1. Status nutrisi

Nutrisi pasien ini dapat membantu dalam masa penyembuhan jaringan periodontal secara baik apabila asupan nutrisinya benar. Pasien yang mempunyai penyakit yang berhubungan dengan kekurangan nutrisi dapat di konsul terlebih dahulu ke pada ahli nutrisi. Klinis dari kekurangan nutrisi spesifik dapat berhubungan dengan manifestasi oral  dan dapat menyebabkan kelainan nutrisi atau gizi.

 

2. Pasien dengan diet khusus

Pasien ini misalnya adalah pasien ynag mempunyai penyakit diabetes mellitus yang mana pada saat dilakukan perawatan kita harus  hati-hati serta dalam pemberian obatnya dan juga dalam lama perawatannya kalau perlu sebelum dilakukan perawatan kita harus konsul terlebih dahulu ke pada dokter yang merawatnya.

 

3.Tes darah

Tes ini dapat dilakukan jika pasien mempunyai kelainan pendarahan serta dapat mengganggu pada saat akan dilakukan perawatan giginya. Analisis dari pulasan darah, jumlah sel darah merah dan darah putih, perbedaan jumlah sel darah putih, serta laju endap darah dapat digunakan untuk evaluasi dari adanya dyscrasias dan infeksi yang menyeluruh. Pemeriksaan waktu pembekuan, waktu pendarahan, waktu clot retraction, waktu protrombin, tes kapiler, dan sumsum tulang dapat digunakan juga untuk analisis. Tes tersebut diatas dapat digunakan untuk mediagnosis adanya kelainan darah yang dapat mempengaruhi penyakit periodontal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Carranza, Fermin.A, Henry H.Takei, Michael G.Newman. 2006. Carranza’s Clinical Periodontology. 10th Edition. W.B. Saunders Elsevier Company. Philadelphia. 540-558.

 

abibahhab

 

DAFTAR ISI

               

BAB I    PENDAHULUAN……………………………………………………………………… 2

BAB II  PERAWATAN GANGREN PADA GIGI ANAK-ANAK…………… 3

2.1  Pengertian Gangren………………………………………………………………….. 3

2.1.1  Proses Terjadinya Gangren…………………………………………… 3            2.1.2  Bagan Patifisiologi terjadinya gangrene pulpa………………………………………………………………. 4

2.2    Prosedur Perawatan Pulpa Pada Gigi Anak-Anak……………………….. 5

                        2.2.1 Pulp Capping………………………………………………………………. 5

2.2.1.1  Indirect Pulp Capping…………………………………….. 5

2.2.1.2 Direct Pulp Capping……………………………………….. 6

2.2.2 Pulpotomi……………………………………………………………………. 6

2.2.2.1 Pulpotomi Vital………………………………………………. 7

2.2.2.1 Pulpotomi Non Vital ( mortal pulpotomi )………….. 8

2.2.3 Pulpektomi………………………………………………………………….. 9

2.2.3.1 Pulpektomi Vital…………………………………………….. 9

2.2.3.2 Pulpektomi Non Vital……………………………………… 9

2.3 Perawatan Gangren Pada Gigi Anak-Anak…………………………………… 10

2.2.1  Pengertian Pulpotomi Mortal…………………………………………… 10

2.2.2  Langkah-langkah Pulpotomi Mortal…………………………………. 11

                     2.2.3  Faktor-faktor dalam Pemilihan Metode Pulpotomi Mortal….. 12

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………….. 13

BAB I

PENDAHULUAN

 

Terbukanya pulpa paling sering disebabkan oleh karies, tetapi dapat pula disebabkan oleh trauma dari suatu benturan atau selama preparasi kavitas. Terbukanya pulpa disebabkan oleh karies terjadi lebih sering pada gigi susu daripada gigi tetap karena gigi susu mempunyai rongga pulpa yang relatif lebih besar, tanduk pulpa lebih menonjol, dan email serta dentin yang lebih tipis.

Terbukanya pulpa karena karies akhirnya diikuti oleh infeksi pulpa, sedangkan terbukanya pulpa karena trauma diikuti oleh infeksi, jika pulpa yang terbuka terinfeksi saliva. Pulpa yang infeksi menjadi meradang dan dapat terjadi nekrose pulpa. Gigi susu dengan pulpa terbuka jangan dibiarkan tanpa perawatan. Harus dilakukan pilihan diantara konservasi melalui beberapa bentuk perawatan pulpa atau pencabutan.

 

 

 

 

 

 

                                             BAB II

    PERAWATAN GANGREN PADA  GIGI ANAK-ANAK

 

2.1       Pengertian Gangren

Gangren adalah keadaan gigi dimana jaringan pulpa sudah mati sebagai sistem pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan rangsangan sehingga jumlah sel pulpa yang rusak menjadi semakin banyak dan menempati sebagian besar ruang pulpa.

 

2.1.1    Proses Terjadinya Gangren

Proses terjadinya gangren diawali oleh proses karies. Faktor-faktor yang menyebabkan karies adalah bakteri, karbohidrat makanan, kerentanan permukaan gigi, dan waktu. Perjalanan gangren dimulai dengan adanya karies yang mengenai email (karies superfisialis), dimana terdapat lubang dangkal, tidak lebih dari 1mm. Selanjutnya proses berlanjut menjadi karies pada dentin (karies media) yang disertai dengan rasa nyeri yang spontan pada saat pulpa terangsang oleh suhu dingin atau makanan yang manis dan segera hilang jika rangsangan dihilangkan.

Karies dentin kemudian berlanjut menjadi karies pada pulpa yang didiagnosa sebagai pulpitis. Pada pulpitis terdapat lubang lebih dari 1mm. pada pulpitis terjadi peradangan kamar pulpa yang berisi saraf, pembuluh darah, dan pempuluh limfe, sehingga timbul rasa nyeri yang hebat, jika proses karies berlanjut dan mencapai bagian yang lebih dalam (karies profunda). Maka akan menyebabkan terjadinya gangren pulpa yang ditandai dengan perubahan warna gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan, dan pada lubang perforasi tersebut tercium bau busuk akibat dari proses pembusukan dari toksin kuman.

 

2.1.2  Bagan Patifisiologi terjadinya gangrene pulpa

Bakteri + karbihidrat makanan + Kerentanan permukaan gigi +waktu

(Saling tumpang tindih)

Karies superfisialis

Karies Media

Karies Profunda

Radang pada pulpa (Pulpitis)

Pembusukan jaringan pulpa (ditemukan gas-gas indol, skatol, putresin)

Bau Mulut

Keluar Gas H2S, NH3

Gigi non vital

(Gangren pulpa)

2.1.3   Gejala Klinik

Gejala yang didapat dari pulpa yang gangrene bisa terjadi tanpa keluhan sakit, dalam keadaan demikian terjadi perubahan warna gigi, dimana gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan Pada gangrene pulpa dapat disebut juga gigi non vital dimana pada gigi tersebut sudah tidak memberikan reaksi pada cavity test (tes dengan panas atau dingin) dan pada lubang perforasi tercium bau busuk, gigi tersebut baru akan memberikan rasa sakit apabila penderita minum atau makan benda yang panas yang menyebabkan pemuaian gas dalam rongga pulpa tersebut yang menekan ujung saraf akar gigi sebelahnya yang masih vital.

 

2.2    Prosedur Perawatan Pulpa Pada Gigi Anak-Anak

 

            2.2.1 Pulp Capping

            Pulp Capping didefinisikan sebagai aplikasi dari satu atau beberapa lapis bahan pelindung di atas pulpa vital yang terbuka. Bahan yang biasa digunakan untuk pulp capping ini adalah kalsium hidroksida karena dapat merangsang pembentukan dentin sekunder secara efektif dibandingkan bahan lain. Tujuan pulp capping adalah untuk menghilangkan iritasi ke jaringan pulpa dan melindungi pulpa sehingga jaringan pulpa dapat mempertahankan vitalitasnya. Dengan demikian terbukanya jaringan pulpa dapat terhindarkan. Teknik pulp capping ini ada dua yaitu indirect pulp capping dan direct pulp capping.

 

 

2.2.1.1  Indirect Pulp Capping

Tekniknya meliputi pembuangan semua jaringan karies dari tepi kavitas dengan bor bundar kecepatan rendah. Lalu lakukan ekskavasi sampai dasar pulpa, hilangkan dentin lunak sebanyak mungkin tanpa membuka kamar pulpa.

Basis pelindung pulpa yang biasa dipakai yaitu zinc okside eugenol atau dapat juga dipakai kalsium hidroksida yang diletakan di dasar kavitas. Apabila pulpa tidak lagi mendapat iritasi dari lesi karies diharapkan jaringan pulpa akan bereaksi secara fisiologis terhadap lapisan pelindung dengan membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil jaringan pulpa harus vital dan bebas dari inflamasi.

Biasanya atap kamar pulpa akan terbuka saat dilakukan ekskavasi. Apabila hal ini terjadi maka tindakan selanjutnya adalah dilakukan direct pulp capping atau tindakan yang lebih radikal lagi yaitu amputasi pulpa (pulpotomi).

 

2.2.1.2 Direct Pulp Capping

Direct Pulp Capping menunjukkan bahwa bahan diaplikasikan langsung ke jaringan pulpa. Daerah yang terbuka tidak boleh terkontaminasi oleh saliva, kalsium hidroksida dapat ditempatkan di dekat pulpa dan selapis semen zinc okside eugenol dapat diletakkan di atas seluruh lantai pulpa dan biarkan mengeras untuk menghindari tekanan pada daerah perforasi bila gigi di restorasi. Pulpa diharapkan tetap bebas dari gejala patologis dan akan lebih baik jika membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil maka pulpa di sekitar daerah terbuka tersebut harus vital dan dapat terjadi proses perbaikan.

2.2.2 Pulpotomi

Pulpotomi adalah pembuangan pulpa vital dari ruang pulpa, dengan meninggalkan jaringan pulpa pada saluran akar dalam keadaan sehat dan vital. Tujuan perawatan pulpotomi adalah menghilangkan semua jaringan pulpa yang terinfeksi

 

2.2.2.1 Pulpotomi Vital

Membuang seluruh jaringan pulpa bagian koronal namun tetap meninggalkan jaringan pulpa pada saluran akar tetap vital (dalam 1 kunjungan).

Langkah-langkah perawatan pulpotomi vital l satu kali kunjungan untuk gigi sulung :

1. Siapkan instrumen dan bahan.

2. Isolasi gigi.

3. Preparasi kavitas.

4. Ekskavasi karies yang dalam.

5. Buang atap pulpa.

6. Buang pulpa bagian korona.

7. Cuci dan keringkan kamar pulpa.

8. Aplikasikan formokresol.

9. Berikan bahan antiseptik.

10. Restorasi gigi.

 

 

2.2.2.1 Pulpotomi Non Vital ( mortal pulpotomi )

Pulpotomi mortal adalah teknik perawatan endodontik dengan cara mengamputasi pulpa nekrotik di kamar pulpa kemudian dilakukan sterilisasi dan penutupan saluran akar.

 

2.2.3 Pulpektomi

Adalah pembuangan seluruh jaringan pulpa nekrotik pada ruang pulpa dan saluran akar diikuti pengisian saluran akar dengan bahan semen yang dapat diresorbsi.

2.2.3.1 Pulpektomi Vital

 

2.2.3.2 Pulpektomi Non Vital

Perawatan endodontik untuk gigi sulung dengan pulpa non vital adalah pulpektomi mortal (pulpektomi devital). Pulpektomi mortal adalah pengambilan semua jaringan pulpa nekrotik dari kamar pulpa dan saluran akar gigi yang non vital, kemudian mengisinya dengan bahan pengisi. Walaupun anatomi akar gigi sulung pada beberapa kasus menyulitkan untuk dilakukan prosedur pulpektomi, namun perawatan ini merupakan salah satu cara yang baik untuk mempertahankan gigi sulung dalam lengkung rahang.

 

 

 

2.3 Perawatan Gangern pada gigi anak – anak

Perawatan yang dilakukan untuk gangren pada gigi anak-anak dengan perawatan Mortal pulpotomi (Non Vital Pulpotomi). Pemeriksaan yang diteliti sebelum perawatan perlu sekali dilakukan untuk menentukan apakah gigi akan dirawat atau dicabut. Jika gigi akan dirawat, maka hasil pemeriksaan akan mengarahkan kepada jenis perawatan pulpa yang akan diambil.

Hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah:

  1. Keadaan kesehatan umum.
  2. Pertimbangan mengenai ruang yang tersedia buat gigi tetap dan sikap orang tua terhadap kesehatan gigi.
  3. Pemeriksaan gigi-giginya.

Prinsip dasar perawatan endodontik pada gigi sulung dengan pulpa non vital adalah untuk mencegah sepsis dengan cara membuang jaringan pulpa non vital, menghilangkan proses infeksi dari pulpa dan jaringan periapikal, memfiksasi bakteri yang tersisa di saluran akar. Perawatan endodontik untuk gigi sulung dengan pulpa non vital yaitu perawatan pulpotomi mortal.

2.3.1   Indikasi

  1. Gigi sulung non-vital
  2. Ada resorbsi akar
  3. Saluran akar tidak jelas
  4. Akar membengkok
  5. Nonkooperatif

2.3.2   Pengertian Mortal Pulpotomi

Pulpotomi mortal adalah teknik perawatan endodontik dengan cara mengamputasi pulpa nekrotik di kamar pulpa kemudian dilakukan sterilisasi dan penutupan saluran akar. Pulpa bagian koronal yang nekrotik, mula-mula dibuang dan pulpa bagian akar yang telah terinfeksi dirawat dengan larutan antiseptik yang kuat, yang diberikan kapas dan ditutup pada kamar pulpa selama 1-2 minggu.

Pada kunjungan kedua, larutan antiseptik ditempatkan diatas sisa-sisa pulpa di bagian akar sebelum melakukan restorasi gigi. Adanya fistula yang dihubungkan dengan abses kronik, atau derajat mobilitas gigi, tidaklah perlu merupakan kontra indikasi metode ini. Fistula diharapkan menghilang setelah infeksi dikendalikan, dan gigi yang goyang menjadi kokoh sewaktu tulang periapikal terbentuk kembali.

 

2.3.3   Langkah-langkah Mortal Pulpotomi

Langkah-langkah pulpotomi mortal adalah:

Kunjungan pertama:

  1. Siapkan instrumen dan bahan.
  2. Isolasi gigi dengan rubber dam.
  3. Preparasi kavitas.
  4. Eksavasi karies yang dalam.
    1. Buang atap kamar pulpa dengan bor fisur steril dengan handpiece kecepatan rendah.
    2. Buang pulpa di bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor bundar.
    3. Cuci dan keringkan pulpa dengan air.
    4. Letakkan arsen atau euparal pada bagian terdalam dari kavitas.
    5. Tutup kavitas dengan tambalan sementara.
      1. Bila memakai arsen, instruksikan pasien untuk kembali 1 sampai 3 hari. Sedangkan jika memakai euparal instruksikan pasien untuk kembali setelah 1 minggu.

 

Kunjungan kedua:

  1. Isolasi gigi dengan rubber dam.
  2. Buang tambalan sementara.

Lihat apakah pulpa masih vital atau sudah non vital. Bila masih vital, lakukan lagi perawatan seperti pada kunjungan pertama, bila pulpa sudah non vital lakukan perawatan selanjutnya.

  1. Berikan bahan antiseptik.

Tekan pasta antiseptik dengan kuat ke dalam saluran akar dengan cotton pellet.

  1. Aplikasi semen zinc oxide eugenol.
  2. Restorasi gigi dengan tambalan sementara.

 

 

 

2.3.4    Faktor-faktor dalam Pemilihan Metode Perawatan Mortal Pulpotomi

Faktor-faktor dalam pemilihan metode perawatan mortal pulpotomi adalah sebagai berikut:

  1. Riwayat sakit spontan.
  2. Pembengkakan, kemerahan pada mukosa.
  3. Adanya sinus.
  4. Mobilitas gigi.
  5. Lunak pada perkusi.
  6. Secara radiologis terlihat resorpsi patologis atau destruksi tulang periradikuler.
  7. Pulpa pada tempat yang terbuka tidak berdarah.

 

Perawatan pulpotomi dinyatakan berhasil apabila kontrol setelah 6 bulan tidak ada keluhan, tidak ada gejala klinis, tes vitalitas untuk pulpotomi vital (+),  dan pada gambaran radiografik lebih baik dibandingkan dengan foto awal

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Riyanti, Eriska. Penatalaksanaan nursing mouth caries (http://resources.unpad.ac.id) 4 Agustus 2009-08-09

R.J.Andlow,W.P.Rock. Perawatan gigi anak edisi kedua. 1992.  Widya Medika.

Ani Kartini, Ganggren Pulpa (http://anikart.blogspot.com) 10 juli 2009

http://shoekidjo.blog.friendster.com/2008/09/perawatan-pulpa-gigi-sulung/

http://www.scribd.com/suggested_users?from=download&next_url=http%3A%2F%2Fwww.scribd.com%2Fdocument_downloads%2F13455178%3Fextension%3Dpdf%26secret_password%3D

 

 

 

 

 

 

 

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.